Saturday, 4 April 2026
Home Blog Page 9146

Ini Lho Empat Kandidat Bakal Calon Bupati Bogor dari PKS

Mei PKS Umumkan Bakal Cabup Bogor

 

BOGOR DAILY- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tengah sibuk menyiapkan kadernya menjadi bakal calon (balon) kepala daerah untuk pemilihan bupati dan wakilnya pada 2018 mendatang. Sedikitnya sudah ada empat nama balon yang dikantongi untuk diusung pada Pilbup nanti. Di antaranya, Agus Salim, Ajid Muslim, Ida Farida Darwi dan Wasto.

Ketua Bidang Pemenangan Pemilu dan Pilkada DPD PKS Kabupaten Bogor Eko Syaiful Rohman mengatakan, keempatnya dianggap telah lolos penjaringan di internal partai.  Sehingga, keempatnya pun diperbolehkan kampanye untuk mengenalkan diri sebagai bakal calon.

“Mereka bebas mengenalkan diri, intinya jangan sampai masyarakat tidak mengetahui bahwa PKS teah menyodorkan nama untuk ambil bagian dalam mengemban amanah memajukan Kabupaten Bogor,

Sementara itu, Ketua DPD PKS Kabupaten Bogor Agus mengaku masih menyiapkan uji publik terhadap empat nama yang sudah drestui partai.

“Ya, akhir Maret uji public selesai dilakukan. Nanti baru ketahuan popularitas dan elektabilitasnya dari mereka,”ungkap

 

Menurut Agus, survei dilakukan oleh lembaga di luar partai. Setelah survei selesai, hasilnya akan dipaparkan ke DPD dan diserahkan ke DPW hingga DPP sebagai rekomendasi. “Paling telat Mei atau Juni sudah ada satu nama yang mendapat SK dari DPP dan itulah yang akan diusung PKS di Pilbup Bogor 2018,” terangnya.

Agus melanjutkan, sesuai amanat musyawarah daerah (Musda), balon dipersiapkan untuk calon bupati. Yang jelas, dirinya memastikan jika PKS Kabupaten Bogor telah siap menghadapi pemilihan kepala daearah (Pilkada) Serentak 2018 mendatang. “Untuk soal posisi kami juga melihat kondisinya dulu. Yang penting kami sudah persiapkan dari sekarang,”tandasnya (met/bd)

 

Jual Sabu ke Kampung-kampung, Tiga Pelaku Disergap

BOGOR DAILYEnam paket sabut berhasil disita dari tiga tersangka yang ditangkap di tiga lokasi berbeda. Ketiga pelaku pengedar narkoba disergap Reskrim Polsek Cibungbulang,saat melancarkan aksinya di Jalan Kampung Ciaruteun.

Kapolsek Cibungbulang Kopol Agus Suyadi menuturkan, penangkapan ketiga orang penjual  sabu berawal dari laporan warga,  bahwa ada teransaksi narkoba di Jalan Kampung  Ciaruten.  mendapatkan laporan tersebut unit reskrim mendatangi TKP dan ternyata benar ada seseorang yang di curigai.

“Kita lakukan penggeledahan kepada Diko Aidilah warga Desa  Hambaro RT 1/1, Kecamatan  Nanggung, ditangan pelaku berhasil diamankan  satu bungkus kecil kristal di duga sabu,”bebernya.

Agus menambahkan, kepada polisi pelaku mengaku narkoba tersebut milik Riki Atok warga Leuwisadeng. Dari keterangan Riki akhirnya mengerucut ke Heri yang masih warga Leuwisadeng.Dari tangan Heri diketemukan barang bukti lima paket kecil sabu.

“Ketiganya saat ini berhasil diamankan polsek Cibungbulang termasuk barang bukti enam bungkus sabu,  kasusnya langsung dilimpahkan ke Polres Bogor,”tukasnya. (met/bd)

 

 

 

Ada Rel Patah di Cakung-Klender Baru

0

BOGOR DAILY- Perjalanan kereta rel listrik (KRL) mengalami gangguan operasional berupa rel patah. Namun saat ini, gangguan itu telah teratasi.

Informasi tentang hal itu disampaikan akun Twitter resmi PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek) @CommuterLine, Senin (20/3/2017). Kejadian rel patah itu dilaporkan pada pukul 03.40 WIB.

“#InfoLintas KA mengalami keterlambatan perjalanan pasca gangguan Operasional Rel Patah pada pkl. 03:40 WIB Antara Sta. Cakung-Klender Baru,” cuit @CommuterLine.

Tak berapa lama, @CommuterLine mengabarkan kembali bila jalur itu bisa dilalui tetapi dengan batas kecepatan tertentu. “#InfoLintas gangguan operasional Cakung-Klender Baru dapat dilalui dengan kecepatan 5 KM di lokasi, mohon maaf atas ketidaknyamanannya,” tulis @CommuterLine.

Kemudian pada 06.10 WIB, jalur telah berhasil diperbaiki. Perjalanan KRL pun bisa dilalui dengan kecepatan normal.

“#InfoLintas pkl. 06.10 WIB gangguan operasional Cakung-Klender Baru sudah ditangani unit terkait, perjalanan dg kecepatan normal di lokasi,” cuit @CommuterLine. (dtk/feb)

Kasihan, Satu Keluarga di Gunungputri Lumpuh

0

BOGOR DAILY-  Satu keluarga di Kampung Cikuda, RT 28/13, Desa Bojongnangka, Kecamatan Gunungputri mengalami lumpuh. Mulai dari anak, orang tua hingga cucunya tak bisa jalan. Mereka pun terpaksa menggunakan tangannya sebagai pengganti kedua kaki untuk berjalan.

Adalah Manih (50), Mpuh (80), Ade Putra (4), ketiganya terpaksa menderita kelumpuhan setelah mengalami insiden.  Manih misalnya, kedua kakinya sudah mati rasa hingga sulit digerakkan. Ia mengalami kecelakaan pada lima bulan lalu.

“Iya mas selama ini ibu, cucu, dan saya tidak bisa berjalan. Kalau saya karena waktu lima belas bulan lalu akibat terjatuh dari motor,”kata Manih

Sementara, orang tua Manih, Mpuh sudah tujuh tahun hanya bias terkapar di kamar. “Kalau  ibu saya memang sudah terlalu tua. Tapi yang kasihan anak saya dia harus lumpuh Karena kelainan saat lahir,”tutur Manih dengan nada lirih.

Menurutnya, selama ini perhatian pemerintah desa maupun kecamatan terkesan acuh, dan tak ada perhatian khusus kepada keluarga dan cucunya tersebut.

“Ya Allah mas dari awal saya sakit seperti ini tidak ada satupun pemerintah terkait yang peduli kepada keluarga saya, jangankan pemerintah. Tokoh setempat saja yang masih tinggal di satu desa enggak pernah kesini sekedar untuk melihat keadaan keluarga saya ini,” paparnya.

Manih membeberkan, selama dirinya beserta ibu dan anaknya itu orang tua selalu beraktivitas dengan menggunakan kedua tangannya sebagai pengganti berjalan.

“Saya selama enggak bisa jalan yah sehari-sehari begini. Seperti mengepel, mencuci dan aktivitas lainnya,”tandasnya (met/bd)

BKMG: Jabodetabek, Berawan dan Hujan

BOGOR DAILY- Sebagian besar wilayah Jabodetabek diprediksi diguyur hujan mulai siang sampai malam hari ini, Senin (20/3/2017).

Hujan diprakirakan turun dengan intensitas ringan, sedang, hingga disertai petir dan angin kencang di beberapa wilayah.

Berdasarkan keterangan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dari laman www.bmkg.go.id, cuaca pagi ini sebagian besar cerah berawan.

Namun, hujan ringan sudah mulai turun pagi ini di Depok, Bekasi, dan Bogor. Hujan akan terus berlangsung secara merata pada siang nanti.

Wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Tangerang diprediksi hujan dengan intensitas ringan.

Untuk hujan sedang diprakirakan melanda kawasan Jakarta Utara dan Jakarta Selatan.

Sementara itu, lokasi yang diprediksi terjadi hujan petir disertai angin kencang adalah Jakarta Timur, Depok, Bekasi dan Bogor..

Hujan petir masih akan berlangsung sampai malam di Jakarta Timur, Depok dan Bekasi.

Selebihnya, masih akan turun hujan ringan di Jakarta Utara, Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Tangerang. Sementara hujan sedang masih terus mengguyur Jakarta Selatan serta Bogor.

Duh, ABG di Leuwiliang Bogor Tewas Tersengat saat Selfie di Tiang Sutet…

BOGORDAILY- Pamer foto selfi di media sosial jadi hal yang menarik bagi kalangan ABG. Untuk mendapatkan hasil selfie yang maksimal, berbagai cara pun dilakukan.

Seperti yang dilakukan Topik bin Ujang (15) warga Gunungtangkil, RT 02/03, Desa Cibeber 1, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Ia nekat menaiki tiang Sutet yang berada di Kampung Kurai RT 04/07, Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Sesampainya di ketinggian 12 meter, bukan hasil foto yang bagus ia malah hangus terbakar hingga tewas, Minggu (19/3/2017).

Kapolsek Leuwiliang Kompol I Nyoman Suparta menuturkan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 08:00 WIB. Saat itu, Topik bersama temannya Sopian (14) dan Misbah (15) berangkat dari rumah dengan tujuan lari pagi.

Diperjalanan pulang ke rumah, ketiga ABG itu mendatangi dulu tiang Sutet untuk menikmati ke indahan alam sambil selfi. Topik naik duluan, sedangkan kedua temannya menunggu di bawah. Sesampainya di ketinggian12 meter, korban malah tersengat aliran listrik bertegangan tinggi, hingga terjatuh dan mengalami patah kaki kanan dan luka bakar di sekujur tubuh.

“Melihat kejadian itu kedua temannya berteriak minta tolong dan korban di larikan ke RSUD Leuwiliang,”ujar Nyoman.

Korban sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kaki bagian kanan Topik juga diberikan gifsum dan bantuan oksigen. Sekitar pukul 10:30 WIB akhirnya korban meninggal dunia.

“Kita mengimbau kepada masyarakat agar tidak naik ke Sutet karna area tersebut bukan tempat bermain melainkan tiang listrik yang memiliki tegangan arus listrik tinggi,” harapnya. (ads/metro)

Malari 1974 dan Ikan Asin

0

Udara Jakarta panas menyengat. Siang itu, sekitar pukul 14:00 siang, Joko Tole bersama Ujang Topong dan Selamet, tiga anak tanggung dari Kampung Gang Rukun ikut menyeruak di dalam kerumunan manusia di Jalan Pangeran Jayakarta, Mangga Dua Selatan.

Di jalan, mobil bergelimpangan dibakar massa. Joko Tole melihat massa pemuda rata-rata berambut sebahu dengan celana panjang “Cutbray” berwajah bersih, bercampur dengan massa berpakaian lusuh dan wajah semrawut.

Mereka menghadang setiap mobil dengan merk tertentu. Menghardik sopirnya pergi, menggulingkan mobil dan lalu membakarnya.  Joko Tole ikut iringan yang bergerak dari arah Pangeran Jayakarta ke arah Stasiun Kota.

Pada titik Gang Sauw Beng Kong ke arah Pecak Kulit, satu mobik pick up L-300 dari arah Stasiun Beos Kota, terjebak dan tidak sempat balik arah. Tanpa ampun sopir diusir oleh massa dan mobil tersebut digulingkan. Maka tumpahlah ke jalan berkuintal-kuintal ikan asin.

Tanpa dikomando, massa yang lusuh mengambil ikan asin sambil ditonton oleh massa “Pemuda Cutbray”.

Joko Tole dan kawan-kawan digerakkan dengan naluri lapar. Ikut rebutan ikan asin dan dapat digondol pulanglah ikan asin yang cukup banyak.

Seingat Joko, mungkin ia dapat sekitar empat kilo ikan asin jambal yang tebal dan ikan asin kecil-kecil terbungkus plastik.

Sementara Ujang Topong dan Selamet juga membawa masing-masing hasil jarahannya. Sebuah mobil pick up dibakar massa dengan sisa ikan asin yang masih banyak.

Terbayang , Joko Tole makan sayur lodeh terenak buatan ibunya yang pedas dengan ikan asin goreng hasil jarahannya.

Ibunya memang tukang masak yang hebat. Sampai ia dewasa, cerita Joko Tole biasa membeli makanan termahal apapun tampaknya tak bisa menggantikan masakan ibunya yang begitu nikmat.

Setelah melewati kuburan sampai juga ia di rumah. Berharap ibunya senang mendapat oleh-oleh ikan asin jambal hasil jarahannya. Ibu Joko ternyata malah heran melihat anaknya membawa ikan asin yang begitu banyak. Karena itu, ibunya tidak sesegera menerima ikan asin yang dibawa anaknya itu.

Ibu: “Dapat darimana ikan asin itu Joko?”

Joko Tole: “Tadi sama Ujang dan Selamet dapat di Ujung”

Kata Ujung adalah istilah saya dan teman-teman semasa kecil menyebut lokasi Ujung Kampung Gang Rukun yang berbatasan dengan Jalan Pangeran Jayakarta.

Ibu: “Ayoo ngomong kamu dapat darimana?”.

Ibu Joko rupanya masih tidak percaya pada Joko soal asal usul ikan asin tersebut. Akhirnya, Joko Tole menyampaikan apa adanya bahwa ikan asin itu didapatnya dengan mengambil dari mobil yang dibakar massa.

Mendengar itu, ibunya yang memang disiplin dan galak itu marah. Kemudian berujar: “Itu bukan milik kita. Hayo bawa sana keluar. Kamu kembalikan,” seraya menyuruh Joko Tole keluar membawa ikan asin untuk dikembalikan.

Namun Joko malah kebingungan. Mau dikembalikan kemana?

Bayangan makan enak buyar dan malah kena damprat. Sambil berjalan ke arah kuburan Joko melihat “Mang Jangkung” sedang membelah bambu untuk merapikan gubuknya.

Di kampung Gang Rukun, orang kadang dipanggil dengan sebutan ciri-ciri fisiknya dan tidak namanya. Lalu disodorkanlah semua ikan asin itu pada Mang Jangkung sambil berujar: “Mang, ini dari ibu buat Mang Jangkung,”.

Melihat itu, betapa Mang Jangkung senang, dan mengucap: “Terima kasih, ya den”.

Joko Tole dipanggil “Den”,  yang iya sendiri tidak tahu kenapa dipanggil begitu. Setelah dewasa barulah dia paham. Panggilan “Den” adalah singkatan “Raden”.  Sebutan penghormatan karena Mang Jangkung menghormati ayahnya Joko Tole (saya tidak tahu juga kenapa ayahnya yang tukang becak itu dihormati).

Mang Jangkung yang pemulung sampah ini beberapa tahun kemudian ditemukan tewas karena tenggelam dalam sungai yang berlumpur. Ia tewas sewaktu memulung sampah plastik.

Kematian Mang Jangkung membekas dalam diri Joko. Sebab Mang Jangkung dan Bi Irah—bininya– (keduanya dari Brebes, Jawa Tengah) adalah dua orang yang baik. Sering memberi makanan enak: kepiting dan rajungan. Bahkan Joko Tole pernah dicapit kepiting ketika main di rumah Mang Jangkung.

Joko berbohong ketika menyatakan ikan asin itu ke Mang Jangkung atas perintah ibunya. Sebab jika tidak dibilang atas suruhan ibunya, bisa jadi ikan asin itu akan dibagikan lagi oleh Mang Jangkung ke Ibu Joko Tole. Dan Joko Tole bakal kena omel lagi.

Ada kebiasaan yang baik memang di Gang Rukun. Yakni, setiap orang yang memiliki makanan berlebih selalu dibagikan ke tetangga. Joko bisa menduga pasti ikan asin pemberiannya akan dibagikan kembali oleh Mang Jangkung ke para tetangga.

Akhirnya dengan membawa sebagian ikan asin yang ia sisakan untuk di makan, Joko menuju markasnya di tengah kuburan. Suatu tempat yang teduh karena ada pohon kersen besar dengan kuburan di kanan-kiri.

Disana ia menunggu sahabatnya Ujang Topong dan Selamet. Syukur-syukur Akiong datang sehingga ia bisa minta Akiong membawakan nasi buat di makan dengan ikan asin.

Saat ini setelah ia dewasa dan dapat membeli makanan apapun yang mahal sekalipun, ia mengenang betapa sang ibu yang galak itu telah mengajarkan suatu ajaran kejujuran. Dan penghargaan atas hak milik pihak lain. Jangan mengambil barang sesuatu yang bukan haknya.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, Joko Tole pun akhirnya bisa bertemu dan kenal dengan si Penggerak Peristiwa Malari 1974, Hariman Siregar.

Bahkan Joko Tole bisa mentraktir makan siang Hariman Siregar selesai pemakaman almarhum Kang Mul (Mulyana W. Kusumah ) di Restoran Gili-Gili Bogor. Sejarah hidup memang misteri.

Saat ini Joko Tole bersyukur memiliki seorang ibu yang galak tetapi jujur mengajarkan nilai-nilai kehidupan.

 

Terima Kasih Ibu….

 

Catatan tentang Kampung Kuburan Mangkok Edisi 2

Sugeng Teguh Santoso, SH

 

Kuburan Mangkok

0

Kampung Gang Rukun, Kuburan Mangkok atau Kampung Prikemanusian. Tiga nama itu adalah untuk satu tempat yang sama di Jakarta. Tepatnya di Jalan Pangeran Jayakarta, di depan Kampung Kebon Sayur, Kelurahan Mangga Dua Selatan, Jakarta Pusat. (Kampung Kebon Sayur sampai dengan saat ini terkenal sebagai kawasan prostitusi ilegal).

Kampung dengan tiga nama tersebut, sudah tidak ada karena pada 1985, digusur Pemkot Jakarta dan sekarang berubah menjadi pertokoan dan pergudangan.

Nama “Kampung Kuburan Mangkok” digunakan oleh warga penghuninya untuk menggambarkan keadaan geografis senyatanya. Dimana, warga kampung tersebut memang nyata-nyata mendirikan bangunan rumahnya di atas pekuburan yang bentuknya seperti mangkok.

Kalau saya mengingat kembali, kira-kira ukuran kampung tersebut 800 x 300 meter. Disebelah barat berbatasan dengan Jalan Jakarta dan sebelah timur dengan sungai.

Di atasnya pekuburan, nama “Gang Rukun” dan “Kampung Prikemanusiaan” adalah nama yang ingin disematkan oleh para tokoh kampung tersebut, sebagai harapan agar warganya “Rukun Guyup” dan “Berprikemanusian”. Tapi, yang resmi tercantum di KTP malah “Kampung Gang Rukun”.

Kampung ini adalah daerah kumuh. Di kampung ini berbagai etnis ada. Jawa dengan berbagai dialeknya, Madura, Sunda, Batak, Etnis Tionghoa, Manado dan Betawi.

Yang dominan adalah suku Jawa dan etnis Cina dan Madura. Yang pasti mereka yang bertempat tinggal di sana adalah kelompok urban yang miskin.

Pekerjaan warga kebanyakan pemulung, pengemis, tukang becak, buruh pabrik, pengepul barang sampah, copet, jambret, begal dan sopir.

Kampung ini terjadi karena kebijakan Gubernur DKI Ali Sadikin yang mengangkut gelandangan pengemis yang terjaring di jalan-jalan kemudian ditampung di atas kuburan mangkok.

Di kampung ini, pemandangan tidak aneh ketika ada dua pria carok rebutan wanita, atau karena harga dirinya merasa direndahkan, sehingga warga tidak terlalu kaget kalau sudah ada dua pria pegang celurit berhadap-hadapan.

Pernah satu kali seorang laki-laki jatuh persis di depan rumah saya dengan luka menganga pada kaki, tangan dan tubuhnya. Ia memang mau lari ke rumah bapak saya minta perlindungan.

Untung, nyawanya sempat tertolong dan lawan yang menyerangnya tidak mengejar lebih lanjut. (Nama korban Setiyanto, saya biasa memanggilnya dengan nama Mas Jawiiiiiiir).

Di kampung ini, adalah biasa setiap malam ada orang mabuk sampai jatuh di atas kuburan dan besoknya bangun sendiri. Di kampung ini para pria mempertahankan kehormatannya dengan cara berkelahi.

Sebagian anak-anak, akan diajak oleh orang tuanya untuk “Mulung” (istilah untuk kerja memungut barang bekas) keliling Jakarta, atau diajak ortunya mengemis ke daerah-daerah lain.

Pekerjaan copet dilakukan oleh para perempuan dengan sasaran Pasar Senen. Sementara pekerjaan begal, saya tidak tahu persis.

Pernah ada kemudian serombongan polisi datang ke kampung itu dan menangkap tetangga saya, seorang yang di kampung itu tenang. Tidak pernah ribut. Dan memang tidak diketahui apa kerjaannya.

Hanya dalam beberapa waktu keluar rumah berhari-hari dengan beberapa orang dan ketika kembali keluarga itu makin sejahtera saja. Anaknya adalah teman saya bernama Selamet. Selamet kondisinya lebih sejahtera dari keluarga saya dan lainnya.

Pada zaman itu, sepeda langka dia sudah bisa beli. Meski saya dan semua tidak urus dengan urusan orang tuanya. Yang penting kami bisa bermain bersama.

Kata bapak, saya masuk kampung itu berumur 1 tahun kurang, datang bersama ibu dan dua kakak saya. Sementara bapak sudah ada di “Gang Rukun” satu tahun sebelumnya.

Bapak saya menarik becak untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Kami belajar membaca dan menulis dari bapak, karena kami dan anak-anak kampung tersebut, tidak bisa ke sekolah di luar kuburan itu.

Ini karena orang tua kami umumnya adalah mantan gelandangan yang tidak punya KTP, sehingga anak-anaknya tidak diterima di sekolah.

Jadi teman-teman saya umumnya tidak sekolah. Tetapi bapak (entah apa yang ada dalam pikirannya), selalu pulang pada siang hari dan mengajar kakak-kakak saya pelajaran sekolah.

Kemudian karena banyaknya anak tetangga yang oleh orang tuanya dimintakan diajar bapak, maka beliau berinisiatif membuat gubuk untuk menjadi ruang kelas. Lama kelamaan ruang belajar tersebut menjadi sekolah “SD Eka Dharma”.

Seiring perjalanan waktu, SD Eka Dharma berkembang pesat. Semakin hari semakin banyak saja anak kampung itu yang mau sekolah dan bapak saya pun kewalahan untuk mengajar.

Bapak lalu meminta beberapa temannya yang dikenal menjadi guru di SD Eka Dharma. Dan bapak pun memilih untuk tidak mengajar lagi karena sekokah yang didirikannya sudah mempunyai kepala sekolah. Nama kepala sekolah itu adalah “Joko Jayoesworo”.

Kepala sekolah “killer”. Begitu julukannya. Sebab saya pernah lihat kakak saya (sekarang seorang dokter spesialis di Semarang) pernah di tempeleng Pak Joko.

Dan ketika kakak saya mengadukan soal ini, bapak saya malah tertawa. Kakak saya malah ditanya “Trono Kamu Pusing, Enggak…?,” di jawab kakak saya: “Nggak, Pak”. Bapak saya lalu memegang kepala kakak saya dengan lembut dan disuruh mandi.

Saya juga pernah “di kelepak” sama Pak Joko pakai tangan yang ada cincinnya. Busyet! Nyut…. nyut……nyut …. Sakit, Bro!

Tapi saya diam saja tidak melapor sama bapak. Sebab saya yakin, paling malah ditertawakan lagi. Dan memang kami yang salah karena bandel.

SD Eka Dharma hanya sampai kelas 5. Karena sekolah itu ilegal alias tidak ada izinnya. Jadi tidak bisa sampai kelas 6. Karena tidak bisa mengadakan ujian saat naik kelas 6, murid pun harus pindah ke sekolah yang berizin.

Namun, meski tidak berizin, SD Eka Dharma sudah ada raport. Karena itu murid-murid boleh diterima di sekolah resmi.

Saya sendiri lanjut kelas 6 di SD Pademangan Timur 04 Petang, Jakarta Utara. Kalau pulang sekolah, saya main di kuburan.

Kadang kalau ada warga etnis tionghoa mengadakan acara sembahyang–dimana akan ada makanan dipersembahkan–buah, ayam, dan makanan lain, itu adalah waktu yang ditunggu.

Ini karena selesai sembahyang biasanya mereka akan tinggalkan makanan tersebut. Melihat ini, saya serta teman-teman akan menjadi “Dewa Sesembahan” mereka untuk bisa menikmati makanan tersebut. Dan tentunya dengan acara rebutan pula.

Selain itu, jika pulang sekolah kami lapar, maka kami akan mencari buah (bukan di pohon loh). Sebab di kuburan tidak ada pohon buah. Tetapi kami pergi ke daerah Pancoran Glodok. Kurang lebih berjarak 6-7 kilometer dari kampung kami.

Pancoran Glodok merupakan “Surganya” buah import. Biasanya kami mencari buah yang di buang pedagang lantaran sudah ada bagian yang rusak. Kami pun bawa pulang buah-buah import yang rusak itu dan kemudian kami berpesta di kuburan.

Saya ingat juga ada teman bernama Akiong (dari namanya dia ini etnis keturanan Cina), dan dia bersaudara 20 orang. Kadang membawa makanan dari rumahnya, untuk saya dan teman-teman makan di kuburan. Bapaknya Akion kerja di sebuah restoran.

Pernah oleh anak-anak yang lebih besar, saya diadu berkelahi sama Akiong. Sampai saya dan Akiong kecapekan dan babak belur gulat di kuburan. Setelah diadu, saya dan Akiong pulang. Setelah itu ya baikan lagi.

Kata bapak, rumah saya dulu waktu baru datang terbuat dari plastik-plastik bekas. Menggunakan kerangka kayu seadanya. Dan tidak ada kamar mandinya.

Sementara untuk mandi, menggunakan kamar mandi komunal yang dibikin warga dan MCK-nya di saluran kali… hahahaha… Nyaman bleh! Kalau lagi dikuras, kita berjejer tuh pagi-pagi.

Rumah kami, lama kelamaan dibangun juga semi permanen. Sekitar 19 tahun kami tinggal di atas kuburan. Hingga akhirnya perkampungan tersebut digusur pada 1985 dan ini menjadi sebab saya pilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Padahal, saat SMA, saya mengambil jurusan IPA. Namun kemudian berbelok arah gara-gara mengalami penggusuran yaitu memilih fakultas hukum dengan tujuan menjadi pengacara.

Perkampungan itu adalah tempat yang tidak layak untuk hidup. Baik dari sisi jasmani (sanitasi buruk, tidak ada air bersih, rumah berhimpitan) juga secara mental spiritual.

Warganya berpendidikan rendah. Tidak berwawasan maju. Agama bukan suatu yang penting secara komunal (walau ada masjid juga dibangun oleh bapak dan warga). Tetapi soal urusan rohani masing-masing saja.

Teman-teman saya banyak tidak sekolah. Dan kemudian berujung bekerja di sektor informal. Beberapa kali saya berjumpa teman semasa kecil. Ada seorang sopir taksi odong-odong yang kemudian menjadi sopir saya.

Ada suatu waktu saya bertemu di LP Cipinang, seorang kawan di tahan karena merampok dan di LP Salemba saya juga bertemu teman di tahan karena jadi bandar judi.

Teman-teman lain setelah digusur memang tercerai-berai. Sempat saya bertemu seorang teman yang masih menjadi pemulung sampai saat ini. Dan saya juga berjumpa dengan seorang kawan yang menjadi Satgas Pemuda Pancasila di Cibinong Bogor dan kemudian bertugas mengawal klien saya Bapak Rachmat Yasin (Mantan Bupati Bogor). Teman saya ini bernama “Kaprah”.

Saya bersyukur bisa melewati proses panjang dan berat ini karena kedisiplinan bapak dan ibu saya. Sebab, banyak teman se-usia saya yang tidak beruntung.

Maka disinilah peran negara untuk mewujudkan tujuan bernegara melindungi seluruh tumpah darah Indonesia. Mencerdaskan kehidupan berbangsa.

Pemerintah tidak boleh diam dan menyerahkan masa depan masyarakat miskin pada kemampuan diri mereka sendiri.

Harus sungguh-sungguh ada fasilitasi pemenuhan kebutuhan dasar yang layak. Sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan agar taraf hidup mereka menjadi baik.

Nasib bak seperti yang saya alami adalah kejadian langka. Terima kasih bapak dan ibu yang sangat galak dan disiplin. Ketika waktu-waktu jam belajar saya harus ada di meja belajar.

Terima kasih untuk tempaan kerja keras memanggul berkarung-karung beras (hingga telapak kaki melebar dan badan saya pendek…hahaha).

Terima kasih bapak yang tidak membela kami dengan cara salah ketika kakak ditempeleng Pak Joko sehingga kami tidak menjadi anak cengeng.

Terima kasih bapak ibu atas kerja kerasmu menarik becak dan narik bajaj. Sementara ibu menggendong dagangannya sambil menuntun adik kecil saya.

Terima Kasih Tuhan untuk Rezeki dan Penyertaanmu….

Salam
Sugeng Teguh Santoso, SH

Ada Emasnya, Lihat Nih Koleksi Keris Milik Bos Pandawa Grup.

0

BOGOR DAILY– Dumeri alias Salman Nuryanto, Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group menyimpan sejumlah benda seperti pedang pusaka dan keris. Bahkan ada koleksi kerisnya yang bertahtakan emas.

Pedang dan keris itu kini diamankan oleh penyidik Subdit Fiskal, Moneter dan Devisa (Fiamondev) Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Setidaknya ada sekitar 20-an pedang dan keris yang disita polisi dari rumah Nuryanto di Limo, Depok.

“Alasan dia menyimpan pedang dan keris-keris itu ya hanya koleksi saja,” ujar Kasubdit Fismondev Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Sandy Hermawan, Minggu (19/3/2017).

Menurut Nuryanto kepada polisi, pedang dan keris-keris itu adalah pemberian sejumlah nasabahnya. Di antara beberapa keris yang ada, sarungnya ada yang bertahtakan emas.

“Kebanyakan, kata dia, itu pemberian orang. Ada nasabahnya yang ngasih keris, ngasih pedang,” imbuhnya.

Sandy tidak mengetahui apakah keris-keris itu bermuatan magis atau tidak. “Wah kalau itu saya nggak ngerti deh,” ucapnya.

Selain pedang dan keris, ada juga tongkat dan bambu berisi kain kafan, serta sangkur dan belati. Ada juga ukiran ular berbahan kayu jati (dtk/bd)

Heboh! Pengakuan Hakim Agung Disogok Cewek Cantik

0

BOGOR DAILY 40 Tahun menjadi hakim, Adi Andojo, kenyang makan asam garam dunia peradilan.  Ia pun memberikan pengakuan soal adanya sogokan yang diterima, tak hanya uang tapi uang gratifikasi berupa cewek cantik.

Godaan gratifikasi perempuan itu dia dapati saat menjadi hakim agung 1980-1997. “Lain waktu ada seorang perempuan cantik yang menawarkan dirinya kepada Adi. Tampilan perempuan itu bak artis sinetron. Dia bersedia menjadi ‘hadiah’ asalkan Adi mau menurunkan hukuman bagi orang yang mengutusnya,” kutip detikcom dari buku biografi Adi Andojo “Menjadi Hakim yang Agung”, Minggu (19/3/2017).

Buku itu diluncurkan dua pekan lalu dengan dihadiri Ketua MA Hatta Ali, hakim agung Andi Samsan Nganro dan cendekiawan muslim Komarudin Hidayat.

“Perempuan itu juga memberikan secarik kertas berisi nomor telepon bila sewaktu-waktu Adi ‘membutuhkannya’,” ujar Adi di halaman 177.

Kertas berisi nomor telepon itu langsung disobek-sobek. Adi tidak mau tergoda dengan tawaran menggiurkan itu.

Sikapnya menolak tegas dengan uang perkara sudah dilakukan jauh ia menjadi hakim agung. Saat menjadi Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Semarang pada tahun 1970, Adi malah pernah mau disuap sendiri oleh anak buahnya, seorang hakim kelahiran Banjar. Anak buahnya itu mempuntai teman yang sedang berperkara di PT Semarang dan ditangani Adi.

Oleh anak buahnya, Adi dijanjikan diberi uang sebesar Rp 200 ribu asal mau memenangkan perkara sesuai pemintaan anak buahnya. Dengan tegas Adi menolak. Padahal, saat itu gajinya hanya Rp 70.

“Saya katakan buat apa uang segitu sedangkan masa depan saya cukup cerah,” cerita Adi di halaman 130.

Meski menolak uang berperkara, Adi menerima hadiah yang tidak berhubungan dengan perkara. Adi mengakui setiap lebaran mendapatkan lebih dari 40 parsel.

“Dulu belum muncul istilah itu (gratifikasi). Semua pejabat menerima parsel dan anak buah atau relasinya karena tidak mau menerima malah dianggap menghina,” ujar Adi.

Adi pun memuji kemajuan hukum yang mengkualifikasikan hal di atas sebagai tindakan terlarang.

“Maju, betul maju. Sekarang kalau mantu harus lapor kepada KPK. Dulu nggak. Kalau kita mantu, sampai pemberian kado bertumpuk. Tidak sembarang barang kecil. Dulu jam besar di rumah saya hadiah dari Ketua PN Bandung. Lalu macem-macem. Waktu pernikahan anak saya dapat jam juga, saya kasih besar. Kalau sekarang saya bisa ditangkap KPK,” ujar pria kelahiran 11 April 1932 itu.

Mengapa Bapak berani jujur mengatakan pemberian-pemberian itu?

“Lha, nyatanya begitu,” jawab anak dari pasangan Mas Soetjipto Wongsoatmodjo-Raden Nganten Soetjiati Sosrodihardjo.

Ayah Adi adalah pegawai pengadilan dari zaman Belanda hingga era kemerdekaan, dengan jabatan terakhir Ketua Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro.