Sunday, 12 April 2026
Home Blog Page 8276

Ini Jawaban Pemerintah Soal Desakan Transparansi Data Pasien Covid-19

BOGORDAILY – Dunia sedang dijangkiti virus Corona atau Covid-19. Setidaknya sudah 3 juta lebih pasien terinfeksi virus tersebut menurut data Universitas Johns Hopkinis per tanggal 27 April 2020.

Selain permasalahan vaksin yang belum juga ditemukan, polemik transparansi data juga bergulir. Pemerintah Indonesia sendiri dituding tidak transparan dalam menyampaikan data kasus Covid-19 yang terjadi.

IDI Sebut Angka Kematian Akibat Covid-19 Tidak Sesuai

Desakan transparansi data datang dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ketum Pengurus Besar IDI Daeng M Faqih menyatakan data angka kematian akibat Covid-19 tidak sesuai apa yang disampaikan pemerintah dengan temuan di lapangan.

“Ada sedikit perbedaan dengan masing-masing rumah sakit, diperlihatkan data real time dari BNPB langsung laporan dari rumah sakit, kalau di rumah sakit ini angka kematian seribu sekian, dua kali lipatnya,” kata Daeng dalam diskusi melalui siaran telekonference, Sabtu (18/4).

Dia menjelaskan data tersebut didapat dengan melaporkan bukan hanya angka meninggal akibat positif, tetapi yang masuk dalam kriteria PDP, ODP.

DPR Minta Pemerintah Beberkan Data Kasus Covid-19

Pun desakan transparansi data datang dari anggota DPR Komisi IX M. Nabil Haroen. Ia meminta pemerintah beberkan data untuk menentukan mitigasi krisis dan respons dari tim medis serta masyarakat.

“Jika pemerintah menutup data, dari simulasi peneliti dan modeling matematika, akan kelihatan beberapa hal yang tidak logis dengan data yang diungkap saat ini,” tuturnya.

Jokowi Tegaskan Tak Ada Data yang Ditutup-tutupi

Menjawab segelintir desakan dan tudingan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan tidak ada data yang ditutup-tutupi pemerintah terkait kasus Covid-19 sedari awal.

“Mengenai komunikasi yang terbuka, sistem data dan informasi yang terbuka kepada semua pihak. Jangan ada yang menganggap-anggap lagi kita menutup-nutupi,” ujar Jokowi saat membuka rapat terbatas terkait Laporan Gugus Tugas Covid-19 di Istana Merdeka.

“Tidak ada sejak awal kita menutup-nutupi masalah yang ada,” katanya.

Alur Validasi & Penyampaian Data Covid-19 ke Masyarakat

Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Didik Budijanto menjelaskan alur validasi data terkait Covid-19 mulai dari daerah hingga akhirnya disampaikan ke khalayak.

“Data yang sudah disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 merupakan data yang betul-betul sudah melewati verifikasi dan validasi cukup ketat,” kata Didik.

Didik menekankan bahwa tidak ada data yang ditutup-tutupi. Jika pun ada data yang berbeda baik itu di daerah dengan data yang disampaikan oleh Jubir Pemerintah, bisa terjadi karena perhitungan waktu penutupan perhitungan yang disepakati tidak sama oleh beberapa instansi atau kementerian-lembaga.

Berikut Alur Pengumpulan Data Covid-19 di Indonesia:

-Dimulai dari laboratorium jejaring Badan Litbang Kesehatan Kemenkes kemudian dikirimkan dan dikompilasi di laboratorium Balitbang Kesehatan Kemenkes.

“Pada tahap ini, Balitbang Kesehatan Kemenkes kemudian melakukan validasi dan verifikasi data agar benar-benar sesuai dan tepat. Karena ada beberapa orang yang pemeriksaannya bisa satu sampai empat kali, oleh karena itu perlu validasi dan verifikasi,” ungkap Didik.

-Dikirim ke PHOEC
Kemudian data yang sudah divalidasi dikirim ke Pusat Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (PHOEC) Kementerian Kesehatan yang kemudian juga dilakukan proses validasi dan verifikasi.

“PHOEC juga menerima data dari dinas kesehatan tiap provinsi di seluruh Indonesia terkait penelusuran epidemiologi tiap daerah bersangkutan.”

Data yang diberikan oleh dinas kesehatan provinsi juga mencakup informasi mengenai jumlah spesimen dan banyaknya orang yang diperiksa, hasil positif dan negatif dari pemeriksaan tiap daerah, dan juga data orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) di wilayah itu.

-Selanjutnya diteruskan ke Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan
Di sana, data kembali divalidasi dan verifikasi. “Data yang dimiliki oleh Pusat Data dan Informasi Kemenkes yang disimpan pada sistem gudang data juga terintegrasi dengan sistem Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19,” terang Didik.

“Setiap ada data baru yang diperbarui di gudang data Kemenkes, secara otomatis data tersebut juga diperbarui di sistem data Gugus Tugas dalam waktu 12 menit setelah ada pembaruan data di Kementerian Kesehatan.

Diharapkan ketersediaan data yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan dapat dimanfaatkan oleh setiap pemerintah daerah untuk mengambil kebijakan strategis penanganan Covid-19, dan juga disampaikan kepada masyarakat di daerahnya dengan jelas,” paparnya.

Selain itu, Didik mengharapkan masyarakat untuk memperbarui informasi mengenai kasus Covid-19 di daerah tempat tinggalnya untuk meningkatkan kewaspadaan agar melakukan pencegahan supaya tidak tertular.

“Pemerintah juga meluncurkan satu data Covid-19 yang terintegrasi dalam satu sistem sehingga meniadakan perbedaan akan data. Kementerian Kesehatan akan terus meningkatkan perbaikan data terkait Covid-19 baik dari segi kualitas maupun juga kuantitas,” tuturnya.

Kabar Duka, Ayah Angel Lelga Meninggal Dunia

0

BOGORDAILY – Kabar duka kali ini datang dari Angel Lelga, sang ayah meninggal dunia. Hal itu disampaikan Angel Lelga dalam Instagram Stories miliknya.

“Innalillahiwainalillahrojiun telah meninggal dunia bapak saya pagi ini pukul 07.00 WIB, 29 April 2020,” tulis Angel Lelga dalam Instagram miliknya.

Ia pun meminta kepada semua yang mengenal sang ayah untuk memaafkan segala kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Tak hanya itu, Angel juga sedih lantaran tidak bisa bersama sang ayah di detik-detik terakhirnya.

“Maafkan segala kesalahan bapak saya. Kita anak-anak tidak bisa bersama di detik2 terakhir bapak dikarenakan tidak ada penerbangan,” terangnya lagi.

Angel Lelga
Angel Lelga Foto: Instagram

Meski begitu, Angel bersyukur karena masih bisa video call dengan sang ayah di detik-detik terakhirnya.

“Alhamdulillah masih bisa video call sampai papa saya melihat anak-anaknya yang sangat sayang dengan bapaknya. Kita sudah mengikhlaskan kepergian bapak,” katanya lagi.

Persiraja Legawa Jika Liga 1 2020 Tak Bisa Lanjut, tapi…

0

BOGORDAILY – Shopee Liga 1 2020 belum diketahui nasibnya. Jika tak bisa bergulir lagi Persiraja Banda Aceh tetap legawa, namun dengan catatan.

Shopee Liga 1 2020 sedang dihentikan PSSI sementara waktu dengan status force majeure karena pandemi virus corona. Kompetisi bisa kembali bergulir jika status darurat yang ditetapkan pemerintah sampai 29 Mei tak diperpanjang.

Situasi itu tetap membuat klub tidak lepas dengan tanggung jawab untuk menggaji pemain. PSSI menetapkan maksimal gaji sebesar 25 persen dari kontrak awal.

Sampai saat ini belum ada tanda-tanda Shopee Liga 1 2020 bakal bergulir lagi. PSSI juga sudah mengatakan tidak mungkin menggelar pertandingan tanpa penonton.

“Kalau memang pemerintah menetapkan tidak mungkin ada perkumpulan orang ramai pahitnya tahun ini, maka kami legawa,” kata Sekretaris Umum (Sekum) Persiraja, Rahmad Djailani, kepada detikSport.

“Tapi PSSI atau PT LIB, terutama PSSI harus membuat semacam aturan yang membuat klub terhindar dari tuntutan pemain. Harus ada payung hukum. Misalnya Liga 1 2020 dibubarkan, tidak bisa begitu dibubarkan klub masih punya kewajiban. Ini yang kami takutkan,” sambungnya.

Beberapa pemain Persiraja secara terbuka sudah melayangkan protes pemotongan gaji. Mereka merasa pemotongan 75 persen terlalu besar.

“Tiba-tiba klub masih punya tanggung jawab gaji pemain, ofisial dan sebagainya. Ini harus dirumuskan dengan baik supaya klub terhindar dari sanksi atau gugatan. Kemarin saja dengan keputusan 25 persen APPI protes,” Rahmad mengungkapkan.

“Hal semacam ini yang harus dipikirkan. Tidak kemudian ditunda tapi klub dibiarkan berdinamika dengan pemain. Ini saya kira harus ada jalan keluar terbaik,” tegasnya.

Laskar Rencong memulai kompetisi dengan catatan positif. Mereka meraih lima poin hasil dari dua kali imbang dan sekali menang.

Bupati Bogor Tinjau Posko Check Point di Cigombong

BOGORDAILY – Menjelang perpanjangan masa penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga 14 hari kedepan, Bupati Bogor Ade Yasin, meninjau Check Point PSBB di perbatasan Kecamatan Cigombong dengan Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

“Ya, hari ini saya bersama Kapolres melakukan pengecekan posko Check Point di pintu keluar masuk tol Cigombong. Tujuannya untuk memastikan check point ini berjalan maksimal,” kata Bupati Bogor, Ade Yasin didampingi Kapolres Bogor, AKBP Roland Ronaldy saat melakukan pengecekan posko Check Point di pintu tol Cigombong, tepatnya di perbatasan antara Cigombong Bogor dan Cicurug Sukabumi. Rabu (29/4/20).

Selain itu, sambungnya, perpanjangan PSBB tersebut juga guna mengecek perputaran arus mudik. Dimana, warga yang akan mudik melalui jalur ini bakal diarahkan untuk berputar balik lagi.

“Kami akan suruh pulang lagi, sedangkan bagi yang bekerja setiap hari tetap dilakukan pemeriksaan, apakah memakai masker atau tidak, kemudian ada pembatasan bagi penumpang apa yidak juga,” ucapnya.

Ade menyebut, saat ini banyak penomena mudik dengan modus menggunakan kendaraan lain, salah satunya adalah melalui cara motor para pemudiknya diangkut dengan kendaraan truck. Cara ini dilakukan untuk mengelabui petugas.

“Jadi, mereka itu sengaja menaikan kendaraannya ke dalam kendaraan truck barang. Seolah nanti dianggap bahwa kendaraan itu merupakan barang bawaan truck. Tapi bagaimanapun itu tetap bakal ketahuan, makanya saya ingatkan jangan coba-coba membongi petugas,” tegasnya.

Ade pun menghimbau, masyarakat khususnya yang ingin melaksanakan mudik untuk membatalkannya. Mengingat, jika ini dilakukan maka akan ada sanksi yang bakal diterima mereka.

“Sanksinya kalau melanggar lalu lintas akan ditilang, kalau melanggar SOP seperti tidak memakai masker dan lainnya disuruh putar balik lagi dan tidak boleh lewat. Masyarakat harus paham ini demi kebersamaan semuanya agar tetap sehat, intinya patuhi terhadap aturan yang sudah diterapkan dalam PSBB,” ujar Ade.

Sementara, Kapolres Bogor AKBP Roland Ronaldy menyatakan selama PSBB dan larangan mudik diterapkan jumlah kendaraan yang diputar balikan sudah mencapai 340 kendaraan. Jumlah tersebut didominasi oleh kendaraan yang akan melaksanakan mudik dengan memasuki wilayah Bogor maupun yang ingin keluar dari Bogor.

“Dari yang sudak kami cek untuk semua kendaraan itu, ternyata bukan kendaraan masyarakat lokal, tapi masyarakat yang ingin benar benar melaksanakan mudik,” pukasnya.(Andi/Diskominfo Kabupaten Bogor)

H. Ruhyat Nugraha Minta Bodebek Segera Evaluasi PSBB Tahap Dua, dan Belajar Dari Tahap Pertama

BOGOR DAILY – Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten/Kota Bogor, Bekasi, dan Depok (Bodebek) tahap satu sudah dilaksanakan pada Rabu 14 sampai 29 April 2020.

Akan tetapi, masih banyak catatan yang harus dibenahi oleh lima daerah di Provinsi Jawa Barat (Jabar), yang kembali memperpanjang PSBB dari mulai tanggal 29 April sampai dengan 12 Mei.

Hal itupun ditanggapi oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Ruhyat Nugraha, saat ditemui di kediamannya, Minggu (29/5/2020).

“Harus segera dievaluasi lagi. Dan harus belajar pada penerapan PSBB tahap awal kemarin, soalnya masih bayak masyarakat yang mengacuhkan hal itu,” katanya.

Menurutnya, langkah yang diambil oleh lima kepala daerah di Jabar yang kembali memperpanjang PSBB ini sangat diapresiasi. Karena, tujuannya untuk menekan penyebaran Covid-19 khusunya di Kabupaten Bogor.

“Saya setuju PSBB ini diperpanjang. Kalau tidak diperpanjang maka aktifitas masyarakat akan kembali seperti biasa. Masyarakat juga harus kompak untuk kebaikan kita semua. Apalagi anti Virus Korona ini belum ditemukan,” jelasnya.

Masih kata politisi PPP ini, dalam penerapan PSBB ini Pemerintah Pusat, Jawa Barat dan Kabupaten Bogor, sudah mempersiapkan bantuan sosial untuk masyarakat yang terkena dampak Covid-19.

“Walaupun belum merata, akan tetapi secara bertahap didistribusikan nantinya. Karena, Pemprov Jabar saat ini menyiapkan kekurangan logistik. Guna memenuhi kuota bantuan,” tukasnya.

Sekedar diketahui, Pemerintah Provinsi Jabar juga akan menerapkan PSBB secara serentak di seluruh daerah Jabar pada Rabu (6/5/2020). (Andi).

Pemkab Buleleng Izinkan Warga dari Luar Daerah Pulang Kampung

BOGORDAILY – Pemerintah Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali memberi lampu hijau warganya yang sedang merantau untuk pulang kampung. Termasuk mereka yang merantau di Pulau Jawa dan Lombok.

Namun, dengan catatan telah mengantongi surat keterangan sehat dan daerah asalnya tidak sedang menerapkan pembatasan sosial berskala besar untuk mengendalikan penularan Covid-19.

“Sebagai langkah antisipasi penyebaran Covid-19, kami akan mewajibkan masyarakat yang hendak pulang kampung untuk melakukan rapid test atau tes cepat di Posko Penyekatan Wilayah Kabupaten Buleleng,” kata Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dalam siaran pers pemerintah kabupaten yang diterima di Singaraja, Buleleng, Rabu (29/4).

Keputusan itu diambil dalam rapat teknis, menimbang sebagian warga dari luar daerah yang berada di Buleleng bekerja di sektor konstruksi, yang kegiatannya sementara dihentikan karena pandemi Covid-19.

“Kami telah menyampaikan imbauan Menteri Perhubungan yang melarang masyarakat untuk mudik. Tetapi, warga luar Buleleng yang ada saat ini merupakan pekerja yang rata-rata tidak bekerja lagi dan mereka memilih untuk pulang ke kampung atau daerah asalnya,” kata Agus.

“Ini kita lakukan sebagai upaya mencegah bertambahnya jumlah pengangguran dan permasalahan sosial di Buleleng. Jika hal tersebut dibiarkan, tentu jadi persoalan baru bagi Pemkab Buleleng di tengah keseriusan menghadapi pandemi ini,” ia menambahkan.

Kepala Kepolisian Resor Buleleng AKBP I Made Sinar Subawa mengatakan pemerintah sudah menyiapkan alur penanganan warga dari luar daerah yang hendak pulang kampung.

“Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan, tubuh dalam kondisi sehat, disertai juga pengecekan daerah tujuan dengan catatan tidak menerapkan PSBB. Setelah kriteria ini dipenuhi, barulah diizinkan pulang ke kampung atau daerah asalnya,” katanya. Seperti diberitakan Antara.

Mulai 4 Mei Para Pemain LaLiga Diizinkan Berlatih Lagi

0

BOGORDAILY – Para pemain Liga Spanyol diizinkan berlatih lagi pada awal Mei mendatang. Namun, mereka hanya diperbolehkan latihan sendiri-sendiri.

Pemerintah Spanyol sebelumnya menetapkan keadaan darurat virus Corona pada 13 Maret 2020. Aktivitas fisik hanya bisa dilakukan di dalam rumah dan kegiatan di luar sangat dibatasi.

Spanyol memang menjadi wilayah di Eropa dengan kasus COVID-19 terbanyak di Eropa, sekitar 230 ribu warganya terinfeksi dan menelan 23 ribu korban jiwa. Meski demikian, penyebaran penyakit mematikan itu dilaporkan mulai menurun belakangan ini.

Melansir Football Espana, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, kini mengumumkan rencana untuk memudahkan negara tersebut agar bisa kembali ke kondisi normal di saat jumlah kasus virus Corona mulai berkurang. Salah satunya yakni dengan mengizinkan para atlet profesional, termasuk pemain LaLiga, supaya dapat berlatih lagi.

Para pesepakbola tersebut diizinkan kembali ke sesi latihan individu pada 4 Mei mendatang. Ini merupakan bagian dari empat fase yang diterapkan Spanyol untuk memulihkan kondisi kegiatan olahraga seperti semula.

Fase-fase tersebut meliputi pelatihan dasar untuk atlet profesional, latihan menengah dan pembukaan pusat-pusat kegiatan, otorisasi kegiatan di luar ruangan dengan peserta kurang dari 400 orang, serta kembali seperti sedia kala dengan ‘standar-standar baru’.

Setiap fase itu rencananya akan dilakukan secara bertahap, dengan masing-masing fase berlangsung minimal dua minggu. Diharapkan, kegiatan olahraga bisa digelar lagi dalam bentuk normal pada akhir Juni 2020.

PSBB Harus Terintegrasi dengan Jakarta

Oleh: Hj. Ade Yasin, SH, MH

(Bupati Bogor/Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor)

Sebanyak 4 orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 di Kabupaten Bogor terkonfirmasi meninggal dunia. Ini data Tim Gugus Tugas Covid-19 hingga Selasa (28/4/2020) malam.

Keempat PDP yang meninggal dunia ini berasal dari 4 kecamatan yang berbeda. Adalah laki-laki usia 30 tahun asal Cibungbulang, laki-laki usia 16 tahun asal Cigudeg, laki-laki usia 30 tahun asal Jasinga dan perempuan usia 20 tahun asal Kecamatan Klapanunggal.

Jumlah total PDP yang meninggal dunia di Kabupaten Bogor berada di angka 22 orang dari total 985 kasus PDP. Sementara angka korban meninggal dari kasus pasien positif terdata 11 kasus, sembuh 12 kasus, dari total 113 kasus positif Covid-19.

Rasio kematian akibat kasus corona di Indonesia memang masih sangat tinggi dibanding rata-rata dunia. Data yang diperoleh, Indonesia yang positif 9.511 kasus, kematiannya sudah tembus 773 orang. Atau secara statistik sama dengan 84 kematian per 1000 kasus. Ini berbanding terbalik dengan negara-negara tetangganya.

Singapura yang memiliki kasus corona tertinggi di ASEAN tapi sukses menekan angka kematian. Sampai informasi ini ditulis, hanya terdapat 14 kematian dari 14 ribu kasus yang terjadi di Singapura.

Secara statistik, angka kematian di Singapura adalah 0,85 kematian per 1000 kasus. Sementara Malaysia 17 kematian per 1000 kasus, dan Indonesia paling tinggi yakni 84 kematian per 1000 kasus. Sementara rata-rata statistik dunia adalah 70 kematian per 1000 kasus.

Kendati demikian, kita juga patut bersyukur bahwa jumlah kematian di Indonesia yang mencapai 773 orang per hari Selasa (28/04/2020), merupakan yang terendah sejak 20 April 2020, dengan penambahan 8 kasus meninggal dunia dan diiringi jumlah pasien sembuh yang melonjak.

Adapun jumlah pasien yang sembuh mencapai 1.254 orang, meningkat 103 orang dibandingkan dengan sehari sebelumnya.

Kita semua tentu berharap kasus pandemi Covid-19 di seluruh tanah air akan segera selesai. Sebagaimana prediksi Tim Gugus Tugas Covid-19 secara nasional yakni pada Juli mendatang masyarakat Indonesia sudah bisa kembali hidup normal.

Tapi prediksi itu bukan berupa “cek kosong”. Kita semua harus bisa bekerja lebih keras lagi. Semua elemen masyarakat khususnya di Kabupaten Bogor harus lebih patuh, lebih disiplin, dan aparat bisa lebih tegas agar pada Juni kita mampu menurunkan kasus COVID, sehingga Juli diharapkan bisa mengawali hidup normal kembali.

Kami juga berharap penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Bogor tahap dua akan lebih baik lagi. Tidak seperti PSBB tahap pertama. Kami mencatat hanya 30 persen masyarakat yang benar-benar patuh atas anjuran pemerintah. Itu karena masih banyak warga Bogor melakukan mobilisasi ke Jakarta yang notabene sebagai epicentrum penyebaran Covid-19.

Kabupaten Bogor sendiri telah menetapkan 61 titik pemantauan, 17 di antaranya difokuskan untuk dijaga selama 24 jam. Dan titik rawan itu bertambah 13 setelah PSBB diterapkan. Sebab masih banyak pergerakan pekerja yang ke Jakarta.

Kami juga sudah mengupayakan dengan meminta operasi KRL diberhentikan sementara selama PSBB. Bersama Kota Bogor, Kota dan Kabupaten Bekasi dan Tangerang Selatan, kami mengajukan surat. Namun ditolak. Padahal, tranportasi kereta sangat rentan sebagai tempat penyebaran virus Corona.

Oleh karena itu, PSBB tahap dua ini harus terintegrasi dengan Jakarta. Kami tidak ingin lagi warga Bogor yang masih banyak bekerja di Jakarta. Kantor atau pabrik di luar sektor yang dibolehkan, kami minta untuk ditutup selama PSBB tahap dua berlangsung. (*)

Saat Pandemi Covid-19, MUI Minta Pemerintah Tegas Larang TKA Masuk RI

BOGORDAILY – Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas meminta pemerintah untuk bertindak tegas melarang masuknya tenaga asing. Utamanya dari China ke wilayah Indonesia di tengah masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.

“Meminta pemerintah untuk bersikap tegas dengan melarang tenaga kerja asing terutama yang dari China untuk masuk ke Indonesia karena di tengah-tengah kita sedang berusaha dan berjuang memutus mata rantai penularan virus Corona yang sudah sangat banyak merugikan bangsa ini,” tegasnya melalui ketegangan tertulis, Rabu (29/4).

Anwar mengatakan, kehadiran mereka yang masih bebas keluar masuk negeri ini dirasa benar-benar menyakitkan bangsa Indonesia.

“Dan kalau hal ini terus berlanjut maka tentu akan membuat kepercayaan rakyat kepada pemerintah menjadi bermasalah dan hal itu tentu jelas tidak baik bagi kehidupan bangsa dan negara ini kedepannya,” ucapnya.

Masyarakat Diminta Ikuti Aturan

Dia juga meminta seluruh elemen bangsa menghadapi wabah virus Corona atau Covid-19, dengan mengikuti ketentuan yang ada.

“Mari kita hadapi wabah covid-19 ini dengan bersungguh-sungguh dan bersama-sama dengan mematuhi ketentuan pemerintah dan protokol medis yang ada,” ucapnya.

Menurut dia, dengan itulah, semua bisa cepat dari wabah pandemi tersebut. “Karena dengan itulah kita harapkan InsyaAllah negeri kita akan bisa cepat keluar dari bencana dan malapetaka yang ada. Sehingga kehidupan masyarakat, kita harapkan akan cepat kembali pulih dan normal seperti semula,” ungkap Anwar.

Dia pun meminta, semua pihak juga meningkatkan persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa.

“Dengan menghidup suburkan sikap tolong-menolong yang selama ini sudah menjadi jati diri kita sebagai bangsa dengan membantu saudara-saudara kita yang mengalami kesulitan dan kesusahan yang tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pokoknya,” tukasnya.

Bantuan Tahap Pertama untuk 90 KK di Lima Kecamatan, Cek Daftarnya

BOGOR DAILY – Besok Kamis (30/4/2020) warga di lima kecamatan Kabupaten Bogor akan mendapatkan bantuan sosial (Bansos) berupa beras, yang memang sudah didata oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor merupakan warga miskin terdampak Covid-19.

Bupati Bogor, Ade Yasin, mengatakan, lima kecamatan yang akan dikirim beras tahap awal itu diantaranya Leuwiliang, Parung Panjang, Tenjo, Rancabungur dan Tajur Halang.

“Ada lima kecamatan yang nantinya akan mendapatkan beras, di lima kecamatan itu ada 90 ribu kartu keluarga (KK),” katanya kepada wartawan ketika ditemui di gudang Bulog Sub Divisi Regional Dua Dramaga, Rabu (29/4/2020).

Ade sapaannya ini meminta, Kabupaten Bogor ini jangan disamakan dengan daerah lain yang menerima hanya puluhan ribu warga miskinnya. Di Bumi Tegar Beriman ini warga yang terdata mendapat bansos ini sebanyak 200.000 KK.

“Karena, Kabupaten Bogor ini ada 200 ribu penerima, dan jangan bandingkan dengan daerah lain yang cuma puluhan ribu, jadi wajar saja telat sedikit,” pintanya.

Menurut politisi PPP ini, kenapa Pemkab Bogor hanya menyediakan beras bagi warga miskin yang terdampak Covid-19. Karena, jika dengan uang tunai dikhawatirkan ada pemotongan.

“Dari kabupaten Bogor hanya beras saja, angkanya itu sekitar Rp316.000 kalau diuangkan. Kita lebih memilih beras karena cepat ketika dikirim kan, kalau uang banyak kekhawatiran,” tukasnya. (Andi).