Wednesday, 15 April 2026
Home Blog Page 8681

Laskar Dewa Gelar Syukuran Kemenangan Ade-Iwan

0

BDN – Laskar Demokrasi Warga (Dewa) menggelar syukuran atas kemenangan Ade Yasin-Iwan Se­tiawan sebagai bupati dan wakil bu­pati Bogor terpilih di pilkada serentak. Syukuran tersebut digelar di kediaman Ketua Dewan Pembina Laskar Dewa Gus Fauzi Hanafi di Kampung Pasir­kuda, Desa Watesjaya, Kecamatan Cigombong. Ade Yasin yang datang dalam acara tersebut memaparkan, kemenangan yang diraih merupakan hasil kerja keras para tim pendukung, tak terkecuali dukungan yang diberikan Laskar Dewa.

”Kemenangan ini adalah kemenangan masyarakat Kabupaten Bogor. Walau ibu-ibu tidak memilih saya, namun sekarang saya sudah menjadi milik rakyat. Maka dari itu mari kita bersa­ma-sama membangun Kabupaten Bogor yang lebih baik. Karena sekarang waktunya kita bangun Bogor yang lebih maju,” bebernya. Untuk itu, lanjut Ade Yasin, pihaknya meminta doa agar menjadi pemimpin yang amanah, pemimpin yang tidak munafik dan tidak korup serta tidak zalim terhadap masyarakat.

Sementara itu, Ketua Umum Laskar Dewa Henky Hedo menjelaskan, selain syukuran kemenangan atas terpilihnya Ade Yasin-Iwan Setiawan sebagai bu­pati Bogor, acara itu juga sekaligus mempererat tali silaturahmi antara tokoh masyarakat dengan Laskar De­wa. “Inti acara ini adalah komitmen membangun Kabupaten Bogor lebih baik dan lebih maju dengan mendukung penuh program bupati terpilih. Bukan tanpa alasan, Laskar Dewa merupakan mitra pemerintah dan mitra masyara­kat,” tuntasnya.

Ribuan Warga Ontrog Kantor Kecamatan 13 August 2018

0

BDN – Banyak cara guna memeriahkan HUT ke-73 RI demi mengenang para pahlawan yang mempertaruhkan nyawanya untuk kemerdekaan RI. Pemerintah Kecamatan Ciseeng pun menggelar jalan sehat yang diikuti ribuan warga. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan dengan berbagai hadiah menarik.

Mengambil rute sepanjang empat kilometer yang dimulai dari Lapangan Kecamatan Ciseeng, dengan rute jalan dari Desa Cibentang, Babakan, Cibogo hingga kembali lagi ke kecamatan, rupanya menarik perhatian masyarakat setempat. Jalan sehat ini juga diikuti berbagai elemen, di antaranya staf desa se-Kecamatan Ciseeng, muspika, guru dan pelajar hingga masyarakat se-Kecamatan Ciseeng.

Salah seorang peserta, Fauji Ihwan, mengatakan bahwa jalan sehat yang digelar Kecamatan Ciseeng ini tentunya sangat berbeda dengan kecamatan lain. “Saya merasa puas bisa membaur dengan aparat pemerintahan untuk memperingati HUT RI ini. Selain itu, momen ini sangat jarang dilakukan di kecamatan lainnya,” ujar Fauji.

Sementara itu, Camat Ciseeng Eddy Muslihat mengaku pemerintah kecamatan sengaja menggelar peringatan HUT ke-73 RI ini agar terjalin silaturahmi antarmuspika dengan masyarakat yang bertema Kecamatan Ciseeng Sehat dan Bebas Narkoba serta Tawuran.

“Antusiasme warga dengan adanya jalan sehat ini sangat luar biasa. Sengaja kami berikan hadiah cuma-cuma sebagai kenang-kenangan dari seluruh jajaran atau kepegawaian kecamatan,” bebernya.

Masih sama seperti tahun kemarin, tambah Eddy, pihaknya juga menyediakan hadiah yang sangat menarik dan grand prize masih satu unit sepeda motor. “Saya harap dengan diadakannya acara ini keakraban sesama warga Ciseeng makin solid,” pungkasnya

Flyover Cileungsi Semrawut

0

BDN – Seolah tak bisa ditata dengan baik, urusan transportasi di Kabupaten Bogor terkesan jadi masalah klasik. Terlebih dalam menangani angkutan umum yang mangkal di bawah Flyover Cileungsi.

Pantauan wartawan, sejumlah angkutan umum dan bus sudah berjajar di jalur yang seharusnya dapat dilalui kendaraan lain. Mereka sengaja menghentikan laju kendaraannya sampai angkutannya terisi penuh. “Di sini banyak penumpangnya, makanya saya ngetem di sini,” ujar Saleh (56), salah seorang sopir angkot trayek Cileungsi-Ciracas.

Menurutnya, tak ada cara lain yang dapat dilakukan selain menunggu. Sebab, banyak penumpang yang sengaja menunggu angkutan umum. Kondisi tersebut pun tak jarang membuat kemacetan.

Saat dikonfirmasi, Kabid Sarpras Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bogor Bisma Wisuda tak menepis keberadaan terminal bayangan yang di bawah Flyover Cileungsi. “Kami sudah berulangkali menertibkan bersama Satlantas Polres Bogor dan Kanitlantas Polsek Cileungsi. Cuma begitu, kalau tidak ada lagi petugas ya ada lagi (terminal bayangan, red),” katanya.

Penerapan sanksi, jelasnya, sudah diberlakukan bahkan tak jarang dilakukan penilangan. “Sudah sering kami tilang ini. Kami sudah arahkan ke terminal. Mungkin karena penumpangnya kurang, jadi lari ke sana,” pungkas Bisma

Bareng Warga Pemdes Kiarasari Tanam 3.000 Pohon

0

BDN – Pemerintah Desa (Pem­des) Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, merupakan salah satu desa yang berada di lereng Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Ke­beradaannya menjadi penyuplai ke­butuhan air di empat kampung, an­tara lain Kampung Cibuluh, Pasiripis, Pasirbendera dan Cipeundeuy. Ada sekitar 2.750 jiwa yang memanfaatkan mata air di kawasan tersebut. Lantaran kesadaran menjaga mata air menjadi kebutuhan, Pemdes Kiarasari bekerja sama dengan PT Antam Tbk menanam sedikitnya 3.000 pohon endemis.

Kepala Desa (Kades) Kiarasari Nuro­din Nurhawan memaparkan, penyelama­tan lingkungan tersebut merupakan komitmen yang menjadi program pemerintah desa. Kegiatan yang me­libatkan 300 Kepala Keluarga (KK) tersebut menjadi bentuk nyata dalam program ‘Penanaman Massal di Hulu Cai’. “Ini merupakan bentuk kepedu­lian kami terhadap Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidurian yang berada di daerah mata air Cibuluh,” ujar pria yang akrab disapa Jaro Peloy tersebut.

Kegiatan ini, lanjutnya, memiliki pro­spek pengembangan dan pemanfaatan sumber mata air. Hampir seluruh ba­gian tanaman endemis ini dapat di­manfaatkan dan menghasilkan ber­macam produk yang memiliki nilai ekonomi. “Selain menjaga lingkungan dan sumber mata air tetap lestari, ta­naman ini juga memiliki nilai ekonomi sehingga sangat bermanfaat,” tuturnya.

Terpisah, tokoh masyarakat Desa Kiarasari Rozak Nurhawan berharap penanaman pohon secara massal di kawasan Blok Sungapan mata air Ci­buluh ini semoga bermanfaat dan meminta masyarakat untuk selalu berupaya menjaga kelangs­ungan ke­hidupan bagi masyarakat Desa Kiara­sari. ”Karena kawasan Kam­pung Cibuluh ini merupakan salah satu yang dapat memberi daya tarik bagi wisatawan dengan panorama alam­nya,” tutupnya.

Warga Teplan Ngadu ke Komnas HAM

BDN – Pasca pengosongan rumah dinas TNI di Kompleks Asrama Teplan, Kelurahan Kedungbadak, Kecamatan Tanahsareal, akhir Juli lalu, puluhan warga mendatangi Komnas HAM untuk mengadukan nasibnya. Didampingi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Keadilan Bogor Raya (KBR), mereka tetap merasa pengosongan dilakukan secara paksa oleh Korem 061/Suryakancana.

Kedatangan warga itu diterima Komisioner Bidang Mediasi Munafrizal Manan. LBH KBR pun menjelaskan kronologis peristiwa pengosongan paksa tersebut. Perwakilan warga, Goris Sembiring, mengaku tidak habis pikir mengapa warga harus terusir dari rumah sendiri yang telah didiami sejak 1970-an itu. “Orang tua kami mewarisi ke kami, bahkan secara rutin kami membayar PBB. Kami tidak mengerti alasan mereka (TNI AD, red),” katanya.

Apalagi ada fakta dokumen yang memperlihatkan warga sudah membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) secara rutin. Sehingga warga setidaknya merupakan pemilik, berdasarkan prinsip beziter rechti dan hak keutamaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA).

Sementara itu, Koordinator Tim Pembela LBH KBR Sugeng Teguh Santoso mengatakan, ada alasan cukup kuat untuk memberi bantuan hukum dan mencari keadilan bagi warga Teplan Bogor. Menurutnya, warga sebagai korban layak mendapat perlindungan hukum atas hak permukiman karena memiliki dan membayar PBB hingga kini.

“Fakta itu menunjukkan, menurut hukum, apabila warga memiliki dan membayar  PBB atas nama warga, maka jelas status tanah tersebut adalah tanah negara yang berhak ditempati dan digarap dan penggarap berhak mengajukan hak atas tanah,” ucap Sugeng.

Jika itu tanah negara, sambungnya, secara hukum atas tanah tersebut belum dibebani hak atas tanah oleh pihak mana pun, termasuk tanah oleh TNI atau Kkorem. “Mudah-mudahan Komnas HAM memberi perhatian serius terhadap korban yang memiliki PBB ini,” imbuhnya.

Sugeng juga meminta Komnas HAM menindak lanjut laporan itu serta segera melakukan mediasi dengan pihak Korem atau Dandim Bogor agar tidak ada lagi keresahan warga. “Karena ada ancaman dilakukan tindakan sepihak pengosongan kembali atas rumah warga lainnya,” ujarnya.

Terpisah, Komisioner Munafrizal Manan menerima laporan tersebut dan akan membawa dalam rapat pleno. Pihaknya bakal memeriksa kasus ini secara objektif bersama pihak yang berkompeten. “Akan kami cek status tanah itu,” paparnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Staf Resort Militer 061/Suryakancana Bogor Letkol Kavaleri Eko Saptono menuturkan, pihaknya mempersilakan jika warga merasa perlu meminta bantuan hukum dan mengadu ke lembaga negara. Sebab, pihaknya pun sudah mempersiapkan tim hukum sendiri untuk menghadapi aduan warga itu.

Pihaknya sudah melakukan penertiban sesuai aturan, dengan berbagai langkah mediasi dan sosialisasi sejak lama. “Silakan saja, kalau bisa menunjukkan legalitas, kami juga pertimbangkan. Jangan kebolak-balik. Kami juga kan nggak berani kalau menyerobot tanah milik orang,” tuntasnya.

Ditonton Warga Malaysia dan Korea

BDN – Untuk keempat kalinya, Festival Helaran Seni Budaya dan Mobil Hias dalam menyambut Hari Jadi Bogor ke-536, kembali digelar, kemarin. Sejak pukul 06:00 WIB, 16 kuda bersama puluhan iring-iringan dan mobil hias bersiap untuk pawai dari Taman Air Mancur, melewati Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Jalak Harupat, menuju garis finish di Taman Kencana.

Lebih dari ratusan peserta iring-iringan, yang terdiri dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), BUMD, sanggar, hotel, mal, hingga perwakilan enam daerah se-Jawa Barat ikut memeriahkan festival jalanan itu. Berbagai seni kebudayaan ditampilkan, mulai dari sisingaan, reog ponorogo hingga barongsai pun mengundang decak kagum para penungunjung. Apalagi, festival ini didukung penuh Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, yang juga turut hadir menikmati pawai.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor Shahlan Rasyidi mengatakan, Kementrian Pariwisata dan Kebudayaan sejak awal mendukung penuh helaran sebagai upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Bogor. Tahun ini menjadi tahun pertama pihak kementerian menghadiri helaran.

“Selalu diundang tiap Helaran, tapi ini tahun pertama datang. Selain itu, kali ini juga support langsung dengan jelas, dipromosikan lewat berbagai media sosialnya. Sehingga tidak hanya dilihat se-Indonesia, tapi juga dunia internasional,” kata Shahlan saat ditemui Metropolitan, di Taman Kencana.

Alhasil, sambung dia, ada beberapa pengunjung yang berasal dari luar negeri, menonton Helaran Seni Budaya ini. Tercatat, ada 15 orang dari Distrik Langkawi, Negara Bagian Kedah Darul Aman, Malaysia, yang sedang menjalani pertukaran ilmu masakan Sunda dan Betawi di Bogor, menikmati jalannya festival. “Selain itu, tadi ada 20-40 pelajar dari Korea Selatan, yang sedang pertukaran pelajar dengan kita. Memang kalau peserta belum ada tahun sekarang, nah dengan promosi yang gencar dan membludaknya penonton, tahun depan ada peserta dari mancanegara,” ucapnya.

Hal itu pun dinilai sejalan dengan tujuan digelarnya Helaran Seni Budaya dan Mobil Hias, yakni meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, baik lokal dan mancanegara. Selain itu, sebagai bentuk pelestarian budaya, yang seiring dengan meningkatnya nilai ekonomi masyarakat. “Yang jualan pada laku. Ujungnya kan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata juga ikut terdongkrak,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Peringatan HJB ke-536 Hery Karnadi mengungkapkan ada lebih dari 600 personil keamanan serta teknis lainnya, yang membantu pelaksanaan Helaran agar kondusif, baik dari Dinas Perhubungan (Dishub), Satpol PP, Polresta Bogor Kota, hingga Bidang Pertamanan pada Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperumkim). “Dishub 100 personel, Satpol PP 200 orang, petugas kebersihan 50 orang, kurang lebih 600 orang terlibat,” katanya.

Pria yang juga Kepala Satpol PP Kota Bogor ini menambahkan, ada perwakilan dari daerah lain se-Jawa Barat, yang turut menampilkan bermacam jenis kebudayaan lokal kasundaan. Diantaranya, Kabupaten Sumedang, Kabu­paten Subang, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, Kota Sukabumi dan Kabupaten Bogor. “Melihat kepesertaan, lebih banyak tahun sekarang,” imbuhnya,

Terpisah, Kepala Bidang Lalu Lintas pada Dishub Kota Bogor Theofillio Francino Freitas mengaku, pihaknya perlu melakukan rekayasa lalu lintas, karena iring-iringan melebihi jadwal yang ditentukan. “Rencananya, selesai iring-iringan jam 11, nyatanya sampai jam 12. Saking banyaknya yang ikut pawai. Rekayasa lalin yang padat dari Warungjambu ke Air mancur ditutup, sedangkan Jalan Jalak Harupat normal, hanya dipakai satu jalur,” pungkasnya.

Oknum Guru Paksa 4 Siswi Buka Celana

0

BDN – Rasa ketakutan terlihat di wajah siswi SMK asal Sukajaya, Kabupaten Bogor. Jika biasanya ba’da Magrib ia langsung menuju rumah salah satu gurunya untuk belajar, namun tidak dengan malam itu. NA (16) tiba-tiba menolak perintah ibunya. Rupanya ia masih trauma setelah dipaksa membuka celananya oleh YK (38), yang tak lain gurunya sendiri.

Malam itu, NA hanya mengurung diri di rumah. Padahal ia seharusnya berangkat ke rumah sang guru bersama teman-temannya. Imas, ibu NA, pun dibuat bingung dengan perubahan sikap putrinya. “Biasanya ngaji dari jam setengah tujuh sampai tujuh malam. Itu di rumah gurunya,” kata Imas.

Namun sudah satu bulan ini, NA justru menunjukkan rasa ketakutan tiap kali disuruh pergi ke gurunya. Setelah ditelusuri, rupanya sang putri jadi korban pencabulan sang guru.

Bukan hanya mendapat perlakuan tak senonoh, pelaku YK yang masih memiliki istri juga berani menyentuh area terlarang milik putrinya. “Anak saya ngaku sering dicabuli sama gurunya. Makanya jadi trauma dan tidak mau mengaji lagi,” tutur Imas.

Tak ayal, kasus ini membuat gempar Kampung Pasirmanggu, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Bahkan bukan cuma NA yang jadi korban aksi bekat sang guru. Ada tiga siswi lainnya di kampung tersebut yang juga mendapat perlakuan tak senonoh. Di antaranya RW (14), MY (13) dan SN (13).

Ketiga bocah SMP yang masih bau kencur itu dipaksa gurunya selepas belajar untuk jadi pelampiasan nafsu. Hewi (35), ibu korban berinisial RW, juga menceritakan hal serupa. “Sama, anak saya pun jadi korban pencabulan oleh guru ngajinya. Astagfirullah, bejat banget akhlaknya,” tuturnya.

Dari pengakuan korban, pelaku mengancam setiap korban jika tak memenuhi keinginannya. “Anak saya diancam dipukul. Kalau soal berapa kalinya, saya nggak tahu persis. Cuma dari pengakuan ada yang baru satu kali sampai dua kali,” urainya.

Informasi yang dihimpun, ada sekitar 15 anak yang tiap harinya belajar di rumah YK yang hampir lima tahun dibuka. Sehari-harinya YK jadi buruh tani, sedangkan malamnya jadi guru.

Namun tak disangka, di balik semua itu, YK yang sudah memiliki dua anak tega memperlakukan bocah di bawah umur itu dengan tak senonoh.

Seorang tetangga korban menceritakan bahwa selama ini dari 15 anak yang belajar, empat korban itu sering belajar paling akhir. Saat itulah pelaku melakukan aksinya. “Memang yang empat itu anaknya cantik. Bahenol ceuk urang Sunda mah (semok kata orang Sunda, red),” tutur AS.

Sedangkan saat kejadian, istri pelaku tak pernah mengetahui aksi bejat suaminya. “Punya istri tapi dia nggak pernah tahu kalau suaminya bejat begitu,” ungkapnya.

Kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur ini seolah tak ada habisnya. Kanit Reskrim Polsek Cigudeg Ipda Suyadi membenarkan adanya peristiwa kasus pencabulan. “Keempatnya masih sekolah. Ada yang SMP dan SMK di salah satu sekolah di Kabupaten Bogor,” kata Suyadi.

Pelaku pun langsung disergap dan kini sudah ditahan Unit Reskrim. “Iya, Unit Reskrim langsung mendatangi TKP untuk mencari keterangan saksi-saksi yang berada di lokasi,” ujarnya.

Sedangkan untuk keempat korban dengan didampingi orang tuanya, lanjut Suyadi, langsung diantarkan ke Unit PPA Polres Bogor untuk dilakukan pemeriksaan sekaligus membuat laporan secara intensif.

“Saat ini terduga pelaku sudah diamankan di Mapolsek Cigudeg. Namun kasusnya kami serahkan ke Unit PPA Polres Bogor,” tandasnya.

Berprestasi walau tak Dibantu

0

BDN – Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-16 yang berhasil menyabet gelar juara piala AFF 2018 rupanya memiliki kisah manis tersendiri bagi Kabupaten Bogor.

Bagaimana tidak, empat pemain Timnas Indonesia U-16 Yudha Febrian, Sutan Zico, Andre Oktaviansyah dan Mochammad Supriadi, merupakan sederet nama yang pernah memulai kariernya sejak menjajakan kaki pertama kalinya di Bumi Tegar Beriman.

Ketua Umum PSSI Asosiasi Kabupaten Bogor Hendra Budiman mengatakan, ketiga pemain tersebut merupakan warga asli Bogor, juga sempat beberapa kali membela Bumi Tegar Beriman dalam berbagai kejuaraan bergengsi.

“Yudha Febrian, Sutan Zico, adalah pemain yang pernah merumput untuk Kabupaten Bogor. Mereka juga pernah membawa Bogor harum pada turnamen sepak bola U-10 di Bandung, tingkat Jawa Barat,” tuturnya.

Ketiga pemain tersebut, sambung Hendra, berasal dari berbagai daerah yang ada di Bumi Tegar Beriman. “Yudha Febrian Cibinong, Sutan Zico Gunungputri, Andre pernah tinggal dan bersekolah di daerah Parung, sedangkan Mochammad Supriadi pernah juga bermain untuk klub SSJ Kota Bogor,” sambungnya.

Terlepas itu semua, Hendra berharap keberhasilan empat pemain tersebut dalam menghantarkan Indonesia meraih gelar juara diharapkan dapat memberi dampak positif bagi kemajuan sepak bola di Bogor Raya pada masa mendatang.

“Gelar juara ini tentu jadi kado yang amat berharga bagi Indonesia yang akan merayakan dirgahayunya yang ke-73 pada 17 Agustus mendatang. Semoga apa yang diraih skuat muda U-16 dapat merangsang dan memicu semangat talenta pesepak bola muda di Bogor.

Terpisah, Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bogor HM Rusdi AS mengaku bangga saat mendengar nama Kabupaten Bogor, Cibinong, Gunungputri, Parung, disebutkan komentator berulang kali pada laga puncak yang syarat gengsi tersebut. “Jujur saya sangat bangga melihat para pemain kita berhasil membawa Indonesia juara. Ini harus jadi ajang kebangkitan sepak bola Kabupaten Bogor, termasuk Persikabo,” katanya.

Ayah Yudha, Rudi Iswandi, yang tinggal di RT 03/07, Kelurahan Cibinong, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, menuturkan bahwa Yuhda merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Bakatnya di sepak bola sudah terlihat sejak berusia tujuh tahun. Pada 2008, Yudha mulai bergabung di SSB Cibinong Poetra. Di sekolah bola, Yuhda dilatih dengan menu latihan fisik dan teknik.

Kebetulan di sekolah tersebut dirinya sebagai pelatih sehingga bisa mengawasi perkembangan bakat Yuhda. Walaupun anak seorang pelatih, tentunya tidak diistimewakan. Semangat pantang menyerah berbuah hasil, dirinya masuk Liga Kompas hingga Ghotia Cup Swedia. “Sebelum sekarang ini bermain di posisi bek, saat usia tujuh sampai sebelas tahun pernah menjadi penjaga gawang,” ujar Pelatih Porda Kabupaten Bogor Rudi.

Awal mula masuk Timnas, lanjut Rudi, saat mengikuti kompetisi Liga Kompas dan Liga Top Skor ada Manajer Tim U-16 yang memantau turnamen tersebut. Melihat bakat Yudha, akhirnya tertarik dan memanggilnya ikut seleksi Tim U-16. Walaupun lolos seleksi dan bergabung di Timnas usia 16 tahun, Yudha tidak putus sekolah. Hingga kini masih sekolah dan duduk di kelas dua SMK Mekanik Cibinong.

“Kalau pagi berangkat ke sekolah, sorenya baru latihan buat menjaga kondisi kebugarannya. Saya harap ke depan Yuhda bisa membela Timnas U-19 sampai ke senior,” harapnya.

Sementara di balik kerja keras itu, rupanya Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pernah menolak proposal pengajuan anggaran untuk Timnas U-16 yang mengikuti AFF U-16 di Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (12/8/2018).

Kemenpora membenarkan tidak memberikan dana bantuan kepada Timnas Indonesia U-16 yang berlaga Piala AFF U-16 2018. Namun, Kemenpora bakal mengupayakan membantu Timnas U-16 di Piala AFC pada September 2018.

Sebelumnya beredar surat propas Kemenpora yang menolak memberikan bantuan kepada PSSI untuk Piala AFF U-16 2018 dan Piala AFC 2018. Surat tertanggal 7 Mei itu mengaku sedang fokus di Asian Games 2018.

“Sebelumnya kami Kemenpora dan seluruh rakyat Indonesia tentu merasa gembira sekali dengan prestasi yang telah diraih Timnas U-16. Ini tidak hanya kado istimewa bagi HUT RI tahun 2018, tapi juga dapat mendorong Timnas yang akan berlaga di Asian Games untuk dapat lebih berprestasi,” kata Sekretaris Menpora Gatot S Dewa Broto.

Gatot membenarkan bahwa surat yang beredar tersebut memang betul asli dari Kemenpora. Berdasarkan laporan dari internal Deputi IV, anggaran dari Deputi IV tahun ini lebih difokuskan pada anggaran untuk dua Timnas Indonesia yakni putra dan putri yang akan berlaga di Asian Games.

Jumlahnya cukup signifikan, kurang dari Rp20 miliar. Dengan rincian total Rp19.376.000, untuk Timnas putra Rp10.188.000 dan Timnas putri Rp9.188.000, kemudian Rp5,9 miliar diperuntukkan guna lisensi wasit international, pelatih profesional dan upgrading pelatih international. “Program itu sudah dan masih berlangsung bersama PSSI,” kata Gatot.

Sampai September, Jadwal KRL Bogor-Jakarta Molor 15 Menit

0

BDN – Bagi warga Kota Bogor yang beraktivitas di Ibu Kota Jakarta menggunakan jasa moda angkutan Commuterline, patut berhati-hati dalam mengatur waktu perjalanan. Sejak Sabtu (11/8), waktu tempuh dari Kota Bogor menuju ibu kota menjadi lebih panjang sekitar lima hingga 15 menit. Sebab, PT Kereta Api Indonesia tengah merampungkan pembangunan proyek Double-Double Track (DDT) paket A di jalur Stasiun Manggarai-Jatinegara.BDN

Senior Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi (Daop) I Jakarta Edy Kuswoyo mengatakan, sejak Sabtu (11/8) pukul 00:00 WIB, pihaknya mematikan sementara jalur enam dan tujuh di Stasiun Manggarai, yang berakibat pemindahan sementara pelayanan KRL Bogor Line dan KA Komuter Bandara ke jalur 8,9 dan 10. Perubahan pola operasi akibat perubahan jalur rel KRL ini berdampak pada bertambahnya waktu perjalanan KRL, sekitar lima sampai 15 menit.

“Sebagai contoh, waktu perjalanan KRL lintas Stasiun Bogor menuju Stasiun Jakarta Kota yang dari semula memakan waktu satu jam lebih 55 menit, menjadi dua jam sepuluh menit,” kata Edy kepada Metropolitan, kemarin (12/8).

Edy mengakui adaptasi waktu perjalanan KRL Bogor-Jakarta selama pembangunan itu bakal diterapkan hingga waktu yang belum ditentukan. Menunggu rampungnya proses pembangunan. “Belum tahu, ya sampai pekerjaan proyek selesai,” ucapnya.

Ia menambahkan, proyek pemindahan jalur atau SO2 (Switch Over 2) itu demi menyelesaikan bangunan Stasiun Modern Manggarai fase pertama. Yang diharapkan rampung seluruh nya pada akhir 2020. Ia pun meminta masyarakat memaklumi proses pekerjaan, dan meminta maaf atas ketidaknyamanan selama pembangunan.

“Pemerintah bersama operator KRL, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengimbau warga untuk dapat menyesuaikan waktu perjalanan ketika menggunakan KRL, terutama pada lintas Bogor menuju Jakarta,” paparnya.

Selain itu, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian bekerja sama dengan operator KRL, PT KCI serta Daop I PT KAI bakal menambah jumlah petugas perkeretaapian, terutama di titik-titik perpindahan penumpang. Serta pengaturan perjalanan kereta api. “Untuk antisipasi switch over (pemindahan jalur, red) penumpang,” imbuhnya.,

Terkait kondisi tersebut, pemerintah meminta maaf kepada masyarakat pengguna jasa KRL atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan serta memohon pengertian masyarakat untuk dapat memaklumi kondisi tersebut, hingga penyelesaian pembangunan Stasiun Manggarai selesai.

Untuk itu, jelas Edy, ke depannya jalur rel di Stasiun Manggarai akan dibangun dua tingkat, untuk memisahkan jalur KA, antara KA jarak jauh, KA Commuterline Jabodetabek dan KA Comuter Bandara. Nantinya, Stasiun Manggarai bakal dibangun tiga lantai, yakni lantai satu terdiri dari jalur KA lintas Bekasi sebanyak empat jalur, KA Comuter bandara empat jalur dengan panjang peron untuk 12 stamformasi kereta.

“Sedangkan di lantai dua, yang punya luas 9.108 meter persegi dengan kapasitas 17.800 orang, akan mendukung layanan penumpang, dilengkapi lift dan eskalator. Lalu lantai tiga akan terdiri dari jalur KA utama, sebanyak enam jalur, dan Bogor line ada empat jalur,” terangnya.

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Wilayah Jakarta dan Banten Yusrizal menyampaikan, pengerjaan fase I DDT paket A masih akan terus berlanjut sampai September 2018. Sehingga pengalihan jalur di Stasiun Manggarai pun akan tetap berlangsung hingga bulan depan., September. “Itu memakan waktu sekitar 1,5 bulan prosesnya,” ujarnya.

Selain penyelesaian DDT paket A Stasiun Manggarai-Jatinegara phase I tahun 2018, Yusrizal menyatakan, PT KCJ ke depan masih akan mengerjakan berbagai proyek di berbagai rute KRL Jabodetabek, khususnya yang menuju Bekasi dan Cikarang.

Tujuh Makam Keramat Jadi Langganan Caleg

0

BDN – Jelang pemilihan legislatif (pileg) 2019, makam-makam keramat jadi incaran sejumlah calon wakil rakyat. Tak cuma mereka yang maju di tingkat DPRD kota/provinsi, bahkan di setingkat caleg DPR RI juga banyak yang mendatangi makam keramat agar hajatnya tercapai.

Di Bogor, ada tujuh makam keramat yang kerap didatangi para caleg jika musim pencalegan tiba. Salah satunya makam Mbah Dalem Batutulis.

Seorang penjaga makam Mbah Dalem Batutulis berinisal MS mengaku banyak caleg yang datang untuk berziarah jelang pileg. Biasanya mereka datang saat tahapan kampanye dimulai. “Yang datang kebanyakan laki-laki. Kalau sekarang belum ada, biasanya pas waktu kampanye,” katanya.

Ia mengaku tak tahu asal mereka. Namun biasanya usai berziarah, mereka minta didoakan agar bisa menjadi anggota dewan. “Nggak cuma di sini, ada juga di tempat lain yang jadi langganan mereka,” tutur MS.

Makam keramat lainnya yang sering dikunjungi caleg di antaranya Makam Mbah Jepra di Kompleks Kebun Raya Bogor. Tak jauh dari lokasi makam, ada sumber air yang disebut Cai Kahuripan. “Mandi dengan Cai Kahuripan dipercaya memberi kejayaan bagi peziarah,” urainya.

Kemudian Makam Mbah Khoeir di Gang Makam, Jalan Ahmad Yani, Kota Bogor, Makam Mbah Dalem atau Pangeran Petir, Makam Mbah Dalem Batutulis, Makam Keramat Habib Abdullah bin Muksin Al Atos atau Masjid Keramat Empang, Makam Raden Sholawat di Jalan Empang, Kota Bogor dan Makam Raden Kan’an di Jalan Tumenggung Wiradiredja, Tanah Baru, Kota Bogor.

“Biasanya caleg yang berziarah ke makam keramat beranggapan bahwa tindakannya itu merupakan bentuk silaturahmi ataupun menghormati para pendahulu. Dengan berziarah maka akan terasa lebih afdol dalam mencalonkan diri menjadi wakil rakyat,” bebernya.

Menurut Ketua DPC Demokrat DPRD Kota Bogor Dodi Setiawan, caleg yang datang ke makam keramat itu merupakan hak individu dari caleg. Biasanya mereka yang sering minta restu ke makam keramat, tak lain orang yang tak yakin pada diri sendiri. Datang ke makam itu bukan meminta tetapi mendoakan orang yang sudah meninggal agar jadi ahli surga. “Saya tidak meminta ke makam keramat, karena itu kufur. Niat maju di pileg bagi saya cukup meminta doa ke kedua orang tua,” ujar Odoy, sapaan akrabnya.

Odoy menegaskan, maju di pileg 2019 perlu modal besar, terlebih dirinya sebagai caleg petahana. Jika berkaca pada pileg 2014, tiket menjadi anggota DPRD Kota Bogor menghabiskan anggaran Rp 93 juta. Anggaran tersebut untuk persiapan pendaptaran, sosialisasi, Alat Peraga Kampanye (APK) hingga syukuran menjadi anggota DPRD. “Jujur di pileg 2014. Tiket menjadi anggota DPRD hanya habis Rp 93 juta, tentunya di pileg 2019 lebih ringan karena Incumben dan masyarakat sudah mengenal siapa Odoy,” ungkapnya.

Modal maju di pileg 2019, lajur Odoy. Selain menjabat anggota DPRD dua priode, banyak berbuat untuk masyarakat dan mau turun ke tengah masyarakat. Saat ini, masyarakat sudah cukup cerdas dalam menentukan pilihan, tidak usaha janjian palsu ataupun money politik tetapi cukup membina, memupuk dan menyirami agar kepercayaan masyarakat tidak pudar. “Di kader Demokrat tidak ada persaingan karena sudah di bagian zona dan punya basis massa masing-masing. Sekarang tinggal bagi mana aduh program untuk memikat hati masyarakat,” pungkasnya.

Terpisah, Pengamat Politik Universitas Djuanda Bogor, Bedi Irawan menjelaskan  Caleg yang berziarah kemakam keramat, itu menadakan pola pikir dan menginterpretasikan politik masih keliru. “Upaya ini diyakini mereka dapat memuluskn jalan ke gedung DPRD. Kita sudah memasuki abad ke 21, namun realitasnya budaya politik masih banyak yang berfikir percaya pada mitos yang kental dengan hal-hal tahyul, alias tidak masuk akal,” ujar Bedi.

Padahal, lanjut Bedi. Dalam budaya politik rasional segala sesuatunya harus diperjuangkan, dan diupayakan dengan kerja keras. Bukan nasibnya diserahkan pada sang dukun dan makam keramat. “Kalau benar kondisi para caleg masih demikian, wah apa kata dunia. Lebih baik berdoa kepada Allah yang maha berkuasa,” pungkasnya