Tuesday, 14 April 2026
Home Blog Page 8340

Pemkot Bogor Minta Penyesuaian Jaring Pengaman Sosial

BOGOR DAILY-Kota Bogor dan empat wilayah lainnya di Jawa Barat akan mengajukan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ke Menteri Kesehatan. Namun, Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menegaskan pengajuan PSBB harus disesuaikan dengan turunnya jaring pengaman sosial.

“Intinya Kota Bogor setuju untuk mengajukan PSBB dilaksanakan, tapi kami ingin sekali menyesuaikan dengan turunnya jaring pengaman sosial yang akan dikucurkan oleh Pemprov Jawa Barat,” kata Dedie dalam keterangannya, Rabu (8/4/2020).

Hal itu diucapkannya saat teleconference dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan kepala daerah lainnya pada Selasa tadi malam (7/4). Dedie mengatakan pihaknya sudah melakukan rapat koordinasi dengan DPRD Kota Bogor.

Kata dia, pada dasarnya dewan memberikan ‘lampu hijau’ apabila memang Kota Bogor mengajukan PSBB kepada Gubernur Jawa Barat, kemudian diteruskan ke Menkes dengan catatan dilengkapi kajian dampak sosial dan dampak ekonomi yang timbul selama penerapannya nanti.

“Tentu yang perlu kami pastikan adalah jaringan pengamanan sosial. Kemarin kami rapat dengan PT Pos Indonesia terkait dengan bantuan yang akan diturunkan oleh Pemprov Jawa Barat,” ujar Dedie.

“Tetapi yang perlu kami pastikan adalah kapan kira-kira disalurkan sehingga timing penetapan PSBB dengan turunnya dari provinsi ini bisa tepat,” jelasnya.

Sebagai informasi, dalam rapat koordinasi tadi malam, diputuskan bahwa Kota Depok, Kota Bogor, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor akan mengajukan PSBB secara kolektif dan dikoordinasikan oleh Gubernur Jawa Barat.

“Pengajuan surat permohonan rekomendasi PSBB akan diajukan bersama dalam waktu yang tidak terlalu lama sambil dilengkapi dengan data-data yang diperlukan. Besok pagi hal ini akan dilaporkan oleh Gubernur Jawa Barat dan Kepala Daerah se-Bodebek kepada presiden dalam rapat terbatas penanganan COVID-19,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan pada intinya semua sepakat bahwa Kota dan Kabupaten yang berdekatan dengan DKI Jakarta mengajukan PSBB ke Menkes.

“Kami tunggu surat yang bertanda tangan kepala daerah yang ditujukan kepada gubernur sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Barat untuk segera direkap besok pagi dan siangnya dikirim ke Menkes. Saya kawal agar bisa segera diputuskan,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, ia mengingatkan semua kepala daerah terus melaksanakan rapid test sebanyak-banyaknya. Pasalnya Jawa Barat menargetkan 100 ribu orang telah dites.

“Kalau bisa tujuh hari ke depan bisa selesai. Kota Bogor punya target minimal 4.400, kalau kurang kita koordinasikan,” kata Kang Emil sapaan akrabnya.

Untuk jaring pengaman sosial dalam membantu rakyat ada lima ‘pintu’ di Jawa Barat. Dia menekankan bagaimana caranya agar jangan ada duplikasi atau penerima ganda sesuai arahan pemerintah pusat.

“Didata mana saja yang menerima sembako rutin, PKH, ada juga bantuan kartu pra-kerja untuk kelompok yang di PHK atau kelompok pengangguran yang masuk kategori. Ada lagi khusus untuk warga Jabodetabek bantuan sosial dari Pak Jokowi sebesar Rp 600 ribu. 16 April kami menargetkan dibagikan dengan catatan datanya valid dan sudah di-SK-kan,” katanya

Sumber:Detik.com

Tiap RSUD Habiskan 300 APD dalam Sehari

BOGOR DAILY – Dalam satu hari satu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang ada di Kabupaten Bogor menghabiskan 300 Alat Pelindung Diri (APD), hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Bupati Bogor, Iwan Setiawan.

Politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini mencontohkan, di RSUD Cibinong dalam satu hari bisa menghabiskan APD sebanyak 300, untuk menangani pasien di masa pandemi Virus Korona atau Covid-19.

“Saya dapat informasi dari dirut RSUD Cibinong itu dalam satu hari bisa menghabiskan 300 APD,” katanya kepada wartawan, Rabu (8/4/2020).

Menurut Iwan sapaan akrabnya, di Kabupaten Bogor ini ada empat RSUD. Berarti, penggunaan APD dalam satu hari di empat RSUD bisa menghabiskan 1.200 APD akan tetapi itu belum termasuk puskesmas.

“Satu hari jika 300, dikali empat RSUD berarti ada 1.200 APD yang digunakan, itu belum termasuk puskesmas, di Kabupaten Bogor ini ada 101 puskesmas,” jelasnya.

Ia menyebutkan, Pemerintah Kabupaten Bogor dalam waktu dekat ini akan memesan masker dan APD untuk tenaga medis yang ada di rumah sakit (RS) dan puskesmas

“Masker ada 11 juta di kali 50 boks, totalnya jadi 550 juta dan APD sebanyak 1,90 juta untuk empat RSUD dan 101 puskesmas,” katanya.

Ia menambahkan, Pemkab Bogor juga memesan masker N95 sebanyak 434 ribu sampai bulan Oktober nanti

“Cuman ini barang susah, peningkatannya ini para pengusaha yang bergerak di bidang APD atau bukan di bidang itu kemampuan untuk membuat itu, tinggal dikordinasikan kemampuan. Mereka juga karyawan gak berani masuk, karena kondisi seperti ini, banyak yang sudah masuk, BNPB juga sudah masuk, kita juga minta Bogor juga bisa masuk,” tukasnya. (Andi).

Kartu Pra Kerja Diluncurkan Besok

BOGOR DAILY-Pemerintah menyiapkan program Kartu Pra Kerja untuk masyarakat yang terdampak virus Corona, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) dan mereka yang kesulitan mencari kerja. Program ini rencananya diluncurkan Kamis (9/4/2020).

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Askolani dalam teleconference, Rabu (8/4/2020).

“Rencananya sih Kamis akan di-launching dirilis PMO dan Menko Perekonomian sehingga detailnya temen-temen bisa diskusikan temen-temen PMO dan Menko Perekonomian,” katanya.

Dia mengatakan, program Kartu Pra Kerja ini dimodifikasi untuk menghadapi dampak virus Corona. Anggarannya pun dinaikkan menjadi Rp 20 triliun.

“Diputuskan pemerintah anggaran kartu Pra Kerja awalnya di APBN Rp 10 triliun ditambah Rp 10 triliun menjadi Rp 20 triliun. Skemanya diubah pemerintah betul-betul menangani COVID untuk mereka mengalami PHK dan sektor informal yang kesulitan oleh dampak COVID, maka akan ada 5,6 juta peserta yang dibantu oleh program Kartu Pra Kerja,” paparnya.

Adapun bantuan yang diterima dalam program ini senilai Rp 3,55 juta yang terdiri dari biaya pelatihan Rp 1 juta, insentif sebesar Rp 600 ribu selama 4 bulan (Rp 2,4 juta) dan survei Rp 50 ribu sebanyak 3 kali (Rp 150 ribu).

Sementara penerima manfaatnya yakni, pencari kerja, pekerja formal/informal dan pelaku usaha mikro dan kecil, serta berusia minimal 18 tahun.

“Penerima manfaat pencari kerja yaitu pekerja informal dan formal pelaku usaha yang terdampak COVID minimal usia 18 tahun,” ujarnya.

DKP bagikan Beras untuk Empat Kecamatan Terdampak Longsor Sukajaya

BOGOR DAILY-Setelah lama menunggu, akhirnya bantuan beras dari Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) sebagai upaya menanggulangi kerawanan pangan pascabencana mendarat di Kabupaten Bogor. Total ada sekitar 101.904 kilogram beras untuk 16.984 jiwa dari 4.779 Kepala Keluarga (KK) di 26 desa, empat kecamatan Kabupaten Bogor yang terkena bencana awal tahun ini.

Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Bogor membagikan bantuan dari Pemprov Jabar kepada para pengungsi dan korban bencana di Kecamatan Sukajaya, Jasinga, Cigudeg dan Nanggung yang dibagikan secara bertahap hingga 22 April.

”Setelah menerima dari Jabar, hari ini (7/4) kita mendistri­busikan bantuan beras ini ke- 6 desa di Kecamatan Sukajaya dulu. Sisanya bertahap sampai 22 April. Hari ini kita distribu­sikan 9.150 kilogram beras untuk Desa Cisarua, Sukajaya, Sipayung, Sukamulih, Harkat­jaya dan Urug,” terang Kepala Bidang Distribusi dan Ca­dangan Pangan pada DKP Kabupaten Bogor, Jona Sijabat, Selasa (7/4).

Bantuan yang diberikan, sambung dia, hanya berupa beras karena masuk CPPD bantuan beras untuk menang­gulangi kerawanan pangan pascabencana. Plus, momen datangnya bantuan disebut pas lantaran tengah dalam kondisi siaga darurat ben­cana Covid-19 di Kabupaten Bogor.

Jona menambahkan, ban­tuan beras yang diberikan dengan besaran 0,3 kilogram per jiwa per hari sesuai kepu­tusan Peraturan Gubernur Nomor 37 Tahun 2017 Pasal 12 dan sesuai Peraturan Bu­pati Bogor Nomor 23 Tahun 2016 juncto Peraturan Bu­pati Bogor Nomor 48 Tahun 2018 Pasal 4.

”Bantuan ini sesuai penda­taan dari wilayah desa dan kecamatan serta sudah diva­lidasi. Jumlahnya untuk 20 hari sesuai kesepakatan. To­tal jadi 101 ton lebih. Distri­businya bertahap, tapi ber­pusat di kecamatan. Silakan kewilayahan untuk teknis pembagiannya,” ujar mantan Kabid Perdagangan pada Dis­dagin Kabupaten Bogor itu.

Setelah ini, menurut dia, bantuan akan didistribusikan bertahap mulai Rabu (8/4) ke Kecamatan Sukajaya, lalu ke Jasinga, Nanggung dan terakhir di Cigudeg, Rabu (22/4). ”Kita serahkan pada kewi­layahan untuk teknis distri­busi ke warganya,” pungkas­nya

Ridwan Kamil Ajukan PSBB untuk Bogor, Depok, dan Bekasi

BOGOR DAILY-Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memastikan segera mengajukan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) di Bogor, Depok, dan Bekasi ke Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Hal itu setelah Menkes menyetujui PSBB di DKI Jakarta.

Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi diajukan PSBB karena berdekatan dengan Jakarta. Selain itu, Ridwan Kamil akan menyamakan pola PSBB di tiga wilayah itu seperti diterapkan Jakarta.

“PSBB sedang kita fokuskan untuk Jabodetabek dulu, Jakarta saya dengar hari ini ada persetujuan maka Jabar akan menyamakan polanya untuk kota dan kabupaten yang berdekatan dengan yang namanya Jakarta,” kata Ridwan Kamil dalam keterangannya, Selasa (7/4).

Persamaan pola, itu akan dibahas lebih dalam rapat bersama Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Selain Bogor, Depok, dan Bekasi, pria yang akrab disapa Kang Emil itu belum memiliki rencana PSBB di wilayah lain Jabar.

“Jadi itu (PSBB) sedang disinkronkan hari ini, kebetulan hari ini kita ada rapat dengan Pak Wapres,” ucap dia.

Sebelumnya, Pemkot Bogor akan mengajukan PSBB ke Menkes Terawan. Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan, pengajuan itu setelah melihat restu Menkes Terawan mengabulkan PSBB di DKI Jakarta.

Dedie mengatakan, ada hal yang dibicarakan dengan DPRD sebelum Pemkot Bogor mengajukan PSBB ke Menkes Terawan. Di antaranya selain soal jumlah pasien postif corona, juga terkait ketersediaan bahan pokok yang cukup untuk warga Bogor.

Orang Tua Bayi, Kerabat dan Tetangga di Cibinong Akan di Rapid Tes Covid-19

BOGORDAILY.net – Juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bogor, Syarifah Sopiah, memaparkan pasca penetapan bayi 3 bulan dari Kecamatan Cibinong, positif korona, akan melakukan tes pada orang tua korban dan para tetangganya.

Saat ini, pihaknya telah melakukan tracking kepada orang tua bayi dan keluarganya di sekitar rumah. Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor pun akan melakukan Rapid Tes Covid-19.

“Semua keluarganya akan di Rapid Tes Covid-19, untuk menentukan apakah positif atau tidak,” tukasnya.

Ipah – sapaan- menjelaskan kronologis bayi usia tiga bulan warga Kecamatan Cibinong yang dinyatakan positif terpapar Virus Korona atau Covid-19.

Menurut Ipah sapaan akrabnya, sebelumnya bayi berusia tiga bulan itu melakukan berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong, karena mengalami sakit demam.

“Kondisi bayi dalam keadaan demam ketika berobat ke RSUD Cibinong, kemudian di swab untuk menentukan Covid-19 atau tidak. Sambil menunggu hasil swab dilakukan pengobatan selama masa inkubasi,” katanya dalam keterangan yang diterima Bogordaily.net, Selasa (7/4/2020) malam.

Ipah juga menjelaskan, setelah masa inkubasi terlampaui gejala klinis yaitu demam, batuk dan lain-lain kemudian sudah menunjukkan sembuh dan dibolehkan pulang.

“Hasil swab kemudian keluar dengan hasil positiv covid-19, sehingga secara prosedur harus di swab ulang kembali,” jelasnya.

Sebelumnya, Jumlah Positif Virus Korona atau Covid-19 di Kabupaten Bogor bertambah. Kali ini bayi berusia tiga bulan asal Kecamatan Cibinong terinfeksi Positif Korona.

Bupati Bogor, Ade Yasin, mengatakan, untuk hari ini Selasa (7/4/2020) ada dua terkonfirmasi positif terinfeksi Virus Korona, diantaranya bayi asal Cibinong berusia tiga bulan dan laki-laki berusia 55 tahun asal Citeureup positif juga.

“Ada dua yang terkonfirmasi saat ini positif bayi asal Cibinong dan Lelaki usia 55 asal Citeureup,” katanya dalam pres rilis yang diterima Bogordaily.net per pukul 19:30 WIB.

Ade Yasin, yang juga ketua Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bogor ini menjelaska, kedua pasien sudah menjalani isolasi di Rumah Sakit (RS) rujukan pemerintah.

“Jadi total yang positif ini ada 23 orang terkonfirmasi, tiga orang meninggal dan tiga orang sembuh, dan masih menjalani isolasi saat ini ada 17 orang,” jelasnya.

Sementara untuk Orang Dalam Penanganan (PDP) ada 324 orang, dan Pasien Dalam Pengawasan ada sebanyak 325 orang. Yang meninggal PDP ada sembilan orang masih menunggu hasil Swab dari Litbankes Kemenkes RI.

“Yang meninggal PDP ada sembilan masih menunggu apakah positif atau tidak. Saya meminta, agar masyarakat tetap waspada, jangan panik, jaga kebersihan, dan hindari keramaian,” tukasnya. (Andi).

Ini Penyebab Bayi 3 Bulan Positif Korona di Cibinong

BOGORDAILY.net – Juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bogor, Syarifah Sopiah, memaparkan kronologis bayi usia tiga bulan warga Kecamatan Cibinong yang dinyatakan positif terpapar Virus Korona atau Covid-19.

Menurut Ipah sapaan akrabnya, sebelumnya bayi berusia tiga bulan itu melakukan berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong, karena mengalami sakit demam.

“Kondisi bayi dalam keadaan demam ketika berobat ke RSUD Cibinong, kemudian di swab untuk menentukan Covid-19 atau tidak. Sambil menunggu hasil swab dilakukan pengobatan selama masa inkubasi,” katanya dalam keterangan yang diterima Bogordaily.net, Selasa (7/4/2020) malam.

Ipah juga menjelaskan, setelah masa inkubasi terlampaui gejala klinis yaitu demam, batuk dan lain-lain kemudian sudah menunjukkan sembuh dan dibolehkan pulang.

“Hasil swab kemudian keluar dengan hasil positiv covid-19, sehingga secara prosedur harus di swab ulang kembali,” jelasnya.

Saat ini, pihaknya telah melakukan tracking kepada orang tua bayi dan keluarganya di sekitar rumah. Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor pun akan melakukan Rapid Tes Covid-19.

“Semua keluarganya akan di Rapid Tes Covid-19, untuk menentukan apakah positif atau tidak,” tukasnya.

Sebelumnya, Jumlah Positif Virus Korona atau Covid-19 di Kabupaten Bogor bertambah. Kali ini bayi berusia tiga bulan asal Kecamatan Cibinong terinfeksi Positif Korona.

Bupati Bogor, Ade Yasin, mengatakan, untuk hari ini Selasa (7/4/2020) ada dua terkonfirmasi positif terinfeksi Virus Korona, diantaranya bayi asal Cibinong berusia tiga bulan dan laki-laki berusia 55 tahun asal Citeureup positif juga.

“Ada dua yang terkonfirmasi saat ini positif bayi asal Cibinong dan Lelaki usia 55 asal Citeureup,” katanya dalam pres rilis yang diterima Bogordaily.net per pukul 19:30 WIB.

Ade Yasin, yang juga ketua Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bogor ini menjelaska, kedua pasien sudah menjalani isolasi di Rumah Sakit (RS) rujukan pemerintah.

“Jadi total yang positif ini ada 23 orang terkonfirmasi, tiga orang meninggal dan tiga orang sembuh, dan masih menjalani isolasi saat ini ada 17 orang,” jelasnya.

Sementara untuk Orang Dalam Penanganan (PDP) ada 324 orang, dan Pasien Dalam Pengawasan ada sebanyak 325 orang. Yang meninggal PDP ada sembilan orang masih menunggu hasil Swab dari Litbankes Kemenkes RI.

“Yang meninggal PDP ada sembilan masih menunggu apakah positif atau tidak. Saya meminta, agar masyarakat tetap waspada, jangan panik, jaga kebersihan, dan hindari keramaian,” tukasnya. (Andi).

Ini Cerita Denada yang Harus Lari-lari saat Belanja Bulanan

BOGORDAILY – Denada menceritakan bagaimana dirinya harus lari-larian di supermarket saat belanja bulanan. Lantas kenapa ia harus lari-larian? Ia mengatakan, hal itu untuk menghemat waktu karena supermarket yang begitu besar.

“Biasanya kita belanja bulanan nya online. Jadi ga perlu ke supermarket. Tapi udah sebulan ini kita ga dapet2 delivery slot. Kayaknya saking ramenya orang yg belanja groceries online sampe armada mereka ga cukup buat ngelayanin semua,” katanya dalam Instagam miliknya.

“Setelah berusaha nyukup2in dan makan yg ada di kulkas selama 2 minggu kemaren, akhirnya dengan sangat terpaksa, tadi ke supermarket. Bangun pagi2 banget, berharap supermarket masih sepi. Belanja bulanan utk 1 bulan ke depan, dalam 1 jam lebih baru beres. Lari2an soalnya supermarketnya luas banget dan 2 lantai. Sepanjang belanja berdoa ga berenti dalam hati,” urainya lagi.

“Begitu sampe rumah, baju langsung ditaro mesin cuci, lari ke kamar mandi luar (bukan yg dipake Aisha mandi): keramas, mandi dan sikat gigi. Sekarang udah duduk sebelah Princess, sambil liat dia kegirangan gara2 aku bawain snack biskuit coklat dari supermarket tadi,” tukasnya.

Unggahan itu langsung mendapatkan komentar dari sang bunda. Agar setiap belanjaan yang dibeli dibersihkan dulu dengan air sabun.

“Tiru bang Hotman tuh…siapkan 1 ember air yg diberi sabun/deterjen. Begitu sampe rumah, semua rendem disitu. Klau mama 10 menit. Sepatu mama semprot disinfektan. Makanan, bungkus nya mama semprot alkohol 80%, makanan yg dibeli diluar, digoreng lagi sampe panas. Lebay??? Biarin lah….takut…,” komen sang bunda, Emilia Contesa.

Agar Warga Ciomas Tinggal di Rumah, Nidia Rahmawati Bagikan Sembako

BOGORDAILY – Berusaha ikut menjaga anjuran pemerintah tentang pembatasan sosial berskala besar. Nidia Rahmawati, warga Kelurahan Padasuka, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor membagikan bantuan 1.400 paket berisi sebilan bahan pokok ditambah satu dus mie instan. Bingkisan itu didistribusikan untuk warga di halaman Kantor Kecamatan Ciomas, Selasa (7/4/20).

Disampaikan Nidia, badan kesehatan dunia telah menetapkan bahwa Corona merupakan Pandemik Global. Semua orang harus waspada dalam menghadapi virus tersebut. Karena itu, pemerintah Indonesia telah menetapkan aturan bagi masyarakat agar tidak keluar rumah. Upaya itu untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Disadari Nidia kebijakan pemerintah mengenai sosial distansing seperti anjuran untuk belajar, bekerja dan beribadah di rumah berdampak pada melemahnya perekonomian bangsa. Kondisi itu sangat dirasakan oleh masyarakat bawah.

“Terutama mereka yang mengandalkan penghasilan harian, ataupun pelaku UMKM,” kata Nidia.

Karena itu, kata Nidia, untuk membantu mengurangi beban ekonomi masyarakat, diperlukan peran serta dari para dermawan agar bersama menanggulangi beban masyarakat kecil.

Sebagai anak bangsa, lanjut Nidia, ada rasa kepedulian serta tanggungjawab terhadap keadaan masyarakat, khususnya di kecamatan Ciomas. Karena itu ia memberikan bantuan 1.400 paket sembako bagi warga Ciomas yang kurang mampu.

Nidia berharap, bantuan tersebut dapat digunakan untuk bertahan hidup dalam waktu 14 hari kedepan. Sehingga dapat mengurangi beban ekonomi masyarakat,  serta untuk menggugah para dermawan lainnya supaya menyisihkan sebagian rejekinya, kepada masyarakat yang membutuhkan.

Selain paket sembako Pada kesempatan ini Ibu Nidia juga membagikan masker secara gratis kepada masyarakat yang ditemui di sekitar kantor kecamatan Ciomas.

Camat Kecamatan Ciomas Chairuka yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Nidia adalah sesuatu hal positif yang dapat membantu meringankan beban warga.

” Ini adalah bencana nasional bahkan internasional, oleh karena itu, kita harus saling membahu, tidak cukup hanya Pemerintah saja yang menangani ini, tapi kita semua harus bertanggungjawab. Dan apa yang diberikan oleh ibu Nidia untuk warga Ciomas saya rasa sangat positif sekali, tentunya saya sangat mengapresiasinya.” Ujar Chairuka.

Chairuka menhimbau kepada warganya supaya terus mengikuti arahan pemerintah, Stay at home, Social Distance, physical Distance dan working at home. “Jangan keluar rumah jika tidak berkepentingan. Dan selalu menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan diri masing-masing.” pungkasnya.

Turut hadir dalam giat tersebut Muspika Camat Drs. Chairuka, Kapolsek Kompol Bambang, Ketua MUI kecamatan Ciomas, dan juga Danramil 2120/Ciomas Mayor Inf Ratno,  serta perwakilan masyarakat yang akan menerima bantuan sembako secara simbolis.(gib/bnd)

Alasan Kenapa Bayi hingga Anak-anak Bisa Terinfeksi Virus Korona?? Cek di Sini!

BOGORDAILY.net – Kenapa anak-anak hingga bayi bisa terpapar virus korona bahkan hingga positif.

Bukti-bukti sejauh ini menunjukkan bahwa anak-anak tidak rentan terhadap virus corona, namun demikian mereka masih bisa terpapar. Mengapa virus ini tampaknya memiliki dampak berbeda terhadap anak-anak ketimbang orang dewasa?

Perdebatan muncul atas kredibilitas cuitan pengusaha muda Elon Musk yang menunjukkan bahwa anak-anak “pada dasarnya kebal” terhadap virus corona.

Sejauh ini, narasinya adalah bahwa sementara virus corona dapat menyebabkan penyakit parah, atau bahkan fatal, pada orang dewasa, namun dampaknya terhadap anak-anak bisa jadi lain.

Namun demikian, ada beberapa laporan tentang anak-anak yang terkena dampak serius dari virus ini.

Bolehkah kita membiarkan anak bermain dengan teman-temannya di saat pandemi?
Seberapa besar kemungkinan anak-anak terkena Covid-19?

Fakta ini, bersama dengan penutupan sekolah yang dilaksanakan minggu lalu di banyak negara di seluruh dunia dan penerapan upaya jaga jarak sosial yang ketat, telah membuat banyak orang tua khawatir tetang efeknya pada anak-anak mereka.

Dapatkan anak-anak terinfeksi virus corona?

Ya, sama halnya orang dewasa, anak-anak yang terekspos virus ini bisa terinfeksi dan mengalami gejala-gejala Covid-19.

“Pada awal mula pandemi, diperkirakan anak-anak tidak akan terinfeksi oleh virus corona, namun kini jelas bahwa beberapa anak terinfeksi virus ini, sama seperti orang-orang dewasa,” jelas Andrew Pollard, profesor infeksi dan imunitas anak di Universitas Oxford, Inggris.

“Hanya saja, ketika mereka terinfeksi, mereka mengalami gejala yang jauh lebih ringan.”

Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China melaporkan bahwa anak-anak di bawah 19 tahun, merupakan 2% dari 72.314 kasus Covid-19 yang dicatat pada 20 Februari silam .

Sementara, sebuah penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan terhadap 508 pasien , melaporkan tidak ada kasus kematian di antara anak-anak. Anak-anak hanya mencakup kurang dari 1% pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.

“Bisa jadi virus tersebut telah mempengaruhi orang dewasa pada saat ini karena telah terjadi penularan di tempat kerja dan penularan selama mereka dalam perjalanan,” kata Sanjay Patel, seorang konsultan penyakit menular anak di Southampton Children’s Hospital.

“Sekarang orang dewasa menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak mereka, kita mungkin melihat peningkatan infeksi pada anak-anak, tetapi mungkin juga tidak.”

Seluruh tren global tampaknya menunjukkan bahwa anak-anak lebih aman dari infeksi virus corona ketimbang orang dewasa, terutama orang lanjut usia, namun sangat mungkin data ini mengalami bias karena di beberapa negara, pengujian hanya dilakukan terhadap mereka yang dirawat di rumah sakit dengan gejala Covid-19 yang parah, sangat sedikit di antaranya adalah anak-anak.

“Jelas, lebih banyak anak yang terinfeksi dari pada yang kita duga,” kata Patel.

“Kita tidak menguji setiap anak di negara ini.”

Bagaimana coronavirus memengaruhi anak-anak secara berbeda ketimbang orang dewasa?

“Ini adalah pengamatan yang luar biasa, dalam literatur global yang kita miliki tentang virus corona, bahwa bahkan anak-anak dengan kondisi medis yang sangat serius, yang menggunakan terapi imunosupresif atau pada perawatan kanker, jauh lebih sedikit terdampak daripada orang dewasa, terutama orang dewasa yang lebih tua,” kata Andrew Pollard, kepala Oxford Vaccine Group, yang para penelitinya baru-baru ini mengidentifikasi kandidat vaksin untuk Covid-19.

Secara umum, anak-anak dengan Covid-19 mengalami gejala yang lebih ringan dari pada orang dewasa.

Tetapi seorang gadis berusia 12 tahun dari Belgia dan seorang bocah lelaki berusia 13 tahun dari London, Inggris, telah meninggal dalam beberapa hari terakhir, menjadikan mereka korban termuda di Eropa.

Seorang anak berusia 14 tahun di Cina juga dilaporkan meninggal setelah terinfeksi virus.

Data dari penelitian tentang dampak Covid-19 di China terhadap anak mengonfirmasi bahwa setengah dari mereka yang terinfeksi menunjukkan gejala demam, batuk, radang tenggorokan, pilek, badan pegal-pegal dan bersin yang ringan.

Seluruh sekolah di seluruh dunia kini diliburkan dan disemprot desinfektan untuk mencegah penyebaran virus corona
Sementara, sepertiga dari mereka menunjukkan tanda-tanda pneumonia, dengan demam dan batuk serta pilek, namun tanpa gejala sesak napas seperti gejala-gejala pada kasus Covid-19 serius.

Graham Roberts, konsultan dokter anak di Universitas Southampton menjelaskan: “Anak-anak dengan Covid-19 kebanyakan terdampak di saluran pernapasan atas mereka (hidung, mulut dan tenggorokan) sehingga mereka tampak seperti mengalami demam saja.”

“Berbeda dengan ketika virus berhasil mengakses saluran pernapasan bawah, seperti paru-paru, dan menunjukkan gejala seperti pneumonia dan gejala penyakit mematikan Sars yang kita lihat pada orang dewasa,” tambahnya kemudian.

Proporsi anak-anak yang terjangkit Covid-19 yang parah atau kritis dengan sesak napas, sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), dan syok jauh lebih rendah (6%) dibandingkan di antara orang dewasa di Cina (19%) – terutama orang lanjut usia dengan penyakit kardiovaskular atau pernapasan yang kronis.

Sebagian kecil anak-anak (1%) tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi sama sekali, meskipun terinfeksi virus. Sebagai perbandingan, hanya 1% dari orang dewasa yang terinfeksi tanpa gejala.

“Pertanyaan besarnya adalah apakah mayoritas anak yang terinfeksi hanya memiliki gejala yang sangat ringan, atau apakah anak-anak sebenarnya tidak terinfeksi virus, tentu tidak sebanyak orang dewasa,” kata Patel.

Mengapa kondisi anak-anak yang terinfeksi virus corona lebih baik daripada orang dewasa?

“Virus ini sangat baru sehingga kita tidak benar-benar tahu [tentangnya]”, kata Roberts, yang juga direktur Pusat Penelitian Asma dan Alergi David Hide, di Newport, Inggris.

“Salah satu alasan yang mungkin adalah bahwa virus membutuhkan protein pada permukaan sel (reseptor) untuk masuk ke bagian dalam sel dan mulai menyebabkan masalah,” katanya.

“Virus corona tampaknya menggunakan reseptor Angiotensin converting enzyme II (ACE-2) untuk tujuan ini. Mungkin saja anak-anak memiliki lebih sedikit reseptor ACE-2 di saluran udara bawah mereka (paru-paru) daripada di saluran udara atas mereka, itulah sebabnya saluran udara bagian atas mereka (hidung, mulut dan tenggorokan) yang paling terpengaruh. ”

Ini mungkin menjelaskan mengapa anak-anak yang terinfeksi virus corona lebih menunjukkan gejala demam, ketimbang gejala pneumonia atau gejala SARS seperti yang dialami oleh orang dewasa.

Afinitas virus corona untuk reseptor ACE-2 ditunjukkan dalam garis sel dan dalam model tikus dalam studi laboratorium pada awal 2003 , dan dalam studi genom virus corona baru RsSHC014 dan Rs3367 (terkait, tetapi tidak identik, dengan virus corona SARS) yang diisolasi dari kelelawar tapal kuda Cina pada tahun 2013.

Pollard mengatakan mungkin ada penjelasan lain.

“Bukan karena anak-anak tidak terinfeksi, tetapi sesuatu berubah seiring bertambahnya usia seseorang yang membuatnya lebih mungkin terinfeksi.”

Dia meletakkan ini ke penuaan sistem kekebalan tubuh (imunosenesensi), yang membuat tubuh kurang mampu melawan infeksi baru.

“Namun, kami tidak melihat kekebalan terhadap orang dewasa muda, dan sangat jelas bahwa bahkan orang dewasa muda memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit parah daripada anak-anak sehingga mungkin bukan seluruh jawaban,” tambah Pollard.

Ada banyak cara yang mampu menunjukkan sistem kekebalan anak berbeda dari orang dewasa, paling tidak karena sistem kekebalan anak masih berproses: anak-anak, terutama yang berada di penitipan anak atau sekolah, terekspos oleh infeksi pernapasan baru dan ini mungkin menyebabkan mereka memiliki tingkat antibodi yang tinggi terhadap virus ketimbang orang dewasa.

“Anak-anak tampaknya memiliki respons yang lebih intens (terhadap infeksi viral) ketimbang orang dewasa, seperti demam tinggi yang Anda jarang lihat pada orang dewasa,” uja Roberts.

“Sangat mungkin bahwa sistem kekebalan tubuh anak mampu lebih baik mengontrol virus, melokalisirnya pada saluran pernapasan atas tanpa menyebabkan masalah-masalah lain dan membunuh virus.”

“Bisa jadi anak-anak yang sebelumnya terinfeksi oleh empat tipe virus corona yang lain telah mengalami perlindungan silang dari infeksi sebelumnya,” tambah Patel.

Selain itu, penulis studi kasus-kasus Covid-19 di China menunjukkan bahwa anak-anak memiliki lebih sedikit mengalami penyakit kardiovaskular dan pernapasan kronis.

Mereka lebih tahan terhadap infeksi virus corona ketimbang orang dewasa lanjut usia.

“Sangat sedikit anak-anak yang mengalami infeksi Covid-19 yang parah,” kata Pollard.

“Itu memang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang secara fundamental berbeda tentang cara mereka menangani virus.”

Ada alasan ketiga mengapa anak-anak tampaknya tidak mengalami gejala Covid-19 yang parah.

Para orang dewasa yang sakit kritis, respons kekebalan tubuh yang terlalu bersemangat, disebut sebagai badai sitokin, tampaknya lebih merugikan ketimbang menguntungkan, menyebabkan kegagalan multi-organ.

Anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang belum matang, tampaknya kurang mampu merespons infeksi virus dengan badai sitokin .

Sementara hipotesis ini belum bisa dibuktikan dalam hal Covid-19, penelitian tentang respons imun pada anak-anak selama wabah SARS pada 2013 membuktikan bahwa, tidak seperti orang dewasa, anak-anak tidak memasang respons sitokin yang terlalu tinggi.

Dapatkah anak-anak dengan penyakit ringan menularkan virus corona kepada orang lain?
Ya, mereka bisa.

“Ini masalah besar,” kata Roberts.

“Banyak yang berpikir bahwa anak-anak berisiko rendah dan kami tidak perlu khawatir tentang mereka, dan ya, itu berlaku untuk anak-anak yang tidak memiliki kondisi medis kronis seperti imunodefisiensi.

Apa yang dilupakan orang adalah bahwa anak-anak mungkin menjadi salah satu rute utama dimana infeksi ini akan menyebar ke seluruh masyarakat.

Virus corona ditularkan dari orang yang terinfeksi ke orang yang tidak terinfeksi melalui kontak langsung dengan tetesan pernapasan orang yang terinfeksi (dihasilkan melalui batuk dan bersin), dan sentuhan dengan permukaan yang terinfeksi virus.

Ini berarti bahwa anak-anak yang terinfeksi virus corona, dengan penyakit sangat ringan atau tanpa penyakit, dapat menularkan infeksi tersebut kepada orang lain, terutama anggota keluarga dan kerabat lanjut usia.

“Anak-anak dengan penyakit yang sangat ringan mungkin akan menjadi salah satu kontributor utama penyebaran virus ke seluruh populasi,” kata Roberts.

“Inilah sebabnya mengapa penutupan sekolah sangat penting untuk mengurangi tingkat penyebaran pandemi di Inggris.”

Pernahkah kita melihat pola yang sama, dengan virus lain, di mana anak-anak mengalami penyakit yang lebih ringan daripada orang dewasa tapi merupakan penyebar infeksi yang penting?
Ya, influenza adalah salah satu virus yang biasa kita kenal.

“Influenza pada anak seringkali hanya berupa pilek, namun pada populasi yang lebih tua dapat menyebabkan rawat inap, perawatan intensif, atau dapat berakibat fatal,” kata Roberts.

Dia menekankan satu pesan penting: “Beberapa tahun yang lalu pemerintah (di Inggris) melakukan vaksinasi flu untuk anak-anak. Itu tidak hanya untuk melindungi anak-anak, itu adalah untuk menghentikan anak-anak supaya tidak menularkan influenza ke ke kerabat lansia mereka yang bisa jauh lebih terkena dampaknya.”

Prinsip ini masih berlaku untuk virus corona. Risiko infeksi Covid-19 terhadap anak-anak sangat rendah, namun risiko mereka menularkannya ke orang dewasa yang rentan atau saudara yang sakit sangat tinggi.

Contoh lain adalah virus flu babi (H1N1) yang bertanggungjawab atas pandemi flu tahun 2009 dan 2010.

“Infeksi H1N1 secara istimewa berdampak jauh lebih buruk pada perempuan hamil dan orang tua, dengan beberapa anak mengalami gejala tapi jauh lebih ringan daripada orang dewasa,” kata Patel.

Apakah Covid-19 mempengaruhi anak-anak dari berbagai usia secara berbeda?
Tampaknya begitu.

Data China menunjukkan bahwa anak-anak kecil, terutama bayi, lebih rentan terhadap Covid-19 dari pada kelompok usia lainnya.

Sementara penyakit parah atau kritis dilaporkan pada satu dari 10 bayi, angka ini menurun secara dramatis ketika anak-anak tumbuh lebih besar.

Sehingga, anak-anak berusia lima tahun atau lebih, hanya tiga atau empat dari 100 mengembangkan penyakit parah atau kritis.

“Ada kecenderungan untuk anak-anak prasekolah,” kata Roberts.

“Mereka memiliki saluran pernapasan kecil, dan mereka kurang kuat dibandingkan anak yang lebih tua dalam melawan infeksi. Mereka juga lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena mereka masih sangat muda. ”

Bagaimana dengan remaja?
“Pada tahap tertentu anak-anak berubah menjadi orang dewasa,” kata Roberts.

“Pada remaja, kita melihat proses sistem kekebalan tubuh menjadi pola yang lebih dewasa, yang mungkin kurang efektif dalam mengendalikan virus ini. Penting untuk diingat, bahwa kita tahu sedikit tentang virus ini, kita benar-benar berspekulasi dalam hal mencoba memahami mengapa kita melihat epidemiologi yang kita pahami.”

Dalam penelitian China, tidak ada kematian yang dilaporkan terjadi pada anak-anak berusia sembilan tahun dan lebih muda, sedangkan satu-satunya kematian pada anak di bawah 19 tahun terjadi pada anak berusia 14 tahun.

Pada 23 Maret, Inggris juga melaporkan kematian terkait Covid-19 pada seorang anak berusia 18 tahun dengan kondisi kesehatan tertentu, sebelum seorang anak berusia 13 tahun dilaporkan meninggal pada 1 April di London.

Bisakah Covid-19 memengaruhi bayi baru lahir?
Ya.

Sementara pandemi masih berlangsung di banyak bagian dunia, setidaknya ada dua kasus infeksi yang dikonfirmasi pada bayi baru lahir – satu di Wuhan, Cina dan satu di London di Inggris.

Belum diketahui apakah bayi-bayi ini tertular infeksi di dalam rahim, atau setelah dilahirkan. Dalam kedua kasus, ibu mereka dinyatakan positif virus.

Apa yang kita ketahui tentang bagaimana virus corona mempengaruhi bayi di dalam rahim?

Tidak banyak.

Sementara virus corona yang bertanggung jawab atas sindrom pernapasan akut (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) dapat memengaruhi perempuan hamil dan bayinya, menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, dan pertumbuhan bayi yang buruk, pola yang sama belum dilaporkan terjadi pada ibu dengan Covid-19.

Namun, temuan ini didasarkan pada dua studi kecil dan pedoman nasional tentang risiko Covid-19 pada kehamilan, ibu dan bayi terus diperbarui.

Namun demikian, Kesehatan Masyarakat Inggris menyarankan bahwa perempuan hamil berpotensi memiliki risiko tinggi terinfeksi virus corona dan merekomendasikan agar mereka secara ketat mematuhi langkah-langkah jarak sosial selama 12 pekan.

Bagaimana keluarga dapat melindungi anak-anak dari infeksi virus corona?
Mencuci tangan dengan baik, menjaga jarak sosial, menyemprot permukaan dan benda-benda yang mungkin mengandung kuman dengan disinfektan, adalah landasan untuk membatasi penyebaran virus.

Praktik “tangkap, buang, bunuh” sama pentingnya dengan mengurangi penyebaran Covid-19 sebagai flu.

“Lakukan dasar-dasarnya dengan benar,” kata Patel.

“Jika Anda berada di area umum, jika Anda menyentuh sesuatu, jangan menyentuh wajah Anda sebelum mencuci tangan dengan baik.”

Situs web NHS berisi informasi tentang tindakan yang dapat diambil keluarga untuk melindungi diri mereka dari Covid-19 .

UNICEF membuat panduan bagi orang tua tentang cara melindungi anak-anak mereka dari infeksi virus corona .

Bisakah keluarga melindungi lansia dan kerabat yang rentan agar tidak terinfeksi oleh anak-anak?
Ya, tapi itu tidak mudah.

Dari tiga tindakan – mencuci tangan dengan baik, menjaga jarak sosial dan mendesinfeksi permukaan dan objek – menjaga jarak adalah satu-satunya metode yang gagal untuk melindungi lansia dan kerabat yang rentan agar tidak terinfeksi, baik oleh anak-anak atau oleh orang lain.

“Melihat interaksi keluarga pada hari ibu, saya melihat banyak keluarga dengan kakek nenek, orang tua dan anak-anak bersama-sama,” kata Patel.

“Saya pikir itu benar-benar mengerikan – data sangat jelas tentang risiko tinggi untuk penyakit parah pada orang tua, terutama mereka yang memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya. Jauhkan anak-anak dari kakek-nenek adalah hal yang tepat untuk dilakukan – mengapa mengambil risiko.”

Pemisahan anak-anak yang tampaknya sehat dari kerabat lanjut usia mungkin tampaknya merupakan tindakan yang tidak perlu, namun penting untuk diingat bahwa sementara sebagian besar anak yang terinfeksi virus corona hanya menunjukkan tanda-tanda penyakit ringan, atau tidak ada tanda sama sekali, mereka masih dapat menularkan virus ke orang lain.

Membatasi penyebaran virus corona dan mengatasi pandemi Covid-19 akan sangat tergantung pada keberhasilan perubahan sosial dan perilaku, seperti pada pengobatan modern dan kemajuan ilmiah.

Mengapa penting untuk berbicara dengan anak-anak tentang Covid-19?
“Dengan begitu banyak narasi tentang Covid-19 yang terjadi di tingkat masyarakat, satu hal yang benar-benar perlu orang tua lakukan adalah meyakinkan anak-anak mereka bahwa anak-anak tidak akan mati karena Covid-19.”

“Sangat penting bagi kami untuk mengeluarkan pesan ini, “kata Patel.

“Kami tahu, sebagai dokter anak, bahwa anak-anak takut akan yang terburuk, tetapi mereka tidak sering mengartikulasikan hal itu bersama kami.”

Pollard setuju. Dia menyarankan agar orang tua meyakinkan anak-anak mereka bahwa “di hampir semua kondisi, anak-anak aman dari penyakit Covid-19 yang parah”.

“Anak-anak dan remaja khawatir dengan keluarga mereka,” kata Linnea Karlsson, seorang profesor dan psikiater anak di Universitas Turku, Finlandia.

“Kita perlu menjelaskan kepada anak-anak dan remaja bahwa ini adalah keadaan luar biasa, dan bahwa kita tidak akan meminta mereka untuk membuat pengecualian pada rutinitas normal mereka jika tidak.

“Kita perlu menjelaskan kepada mereka bahwa dalam situasi seperti ini kita perlu berpikir untuk merawat semua orang, bukan hanya diri kita sendiri dan keluarga kita,” ujarnya. (*/bdn)